Situs berita, blog hingga situs-situs jejaring seperti Twitter, Facebook hingga YouTube diblokir karena peranannya yang besar dalam hal penyebaran informasi dan penggalangan massa.
Tak ayal, hal ini menimbulkan perang baru dalam ranah maya di Iran. Satu dari kubu pemerintah yang agresif memblokir sejumlah situs dan blog, satu lagi dari kubu ahli internet yang berusaha sedemikian rupa untuk mencari jalan tikus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama dari kubu pemerintah. Pemerintah Iran memang sejak dulu berlaku ketat dalam ranah maya, namun pemilihan presiden yang ricuh kemarin tambah membuat mereka 'tegas'. Diyakini, mereka kini lebih agresif dalam mengembangkan software dan teknologi untuk memperkuat penyaringan (filtering) dan pemonitoran situs di Iran.
Bahkan tak hanya itu, orang-orang yang dipercaya menuliskan dan melaporkan sesuatu yang sensitif terkait kondisi di Iran, tanpa ampun dijebloskan ke penjara. Dilaporkan Committee to Protect Journalists, setidaknya ada 34 jurnalis dan blogger masuk ke penjara, bergabung dengan 7 orang lainnya yang telah lebih dulu dijebloskan.
Sementara dari kubu ahli internet juga tak padam usaha mereka untuk mencari jalan tikus guna membuka kesempatan bagi warga Iran untuk terus menjadi corong informasi tanpa diketahui pemerintah.
Usai pemilihan, sejumlah ahli internet membalas perlakuan pemerintah ini dengan cara menyediakan sistem proxy yang telah dipoles. Mereka juga menawarkan program-program lainnya yang berfungsi untuk menghindari pemblokiran dan lolos dari deteksi pemerintah yang kian pintar.
Kepintaran pemerintah yang terus terasah ini disadari oleh direktur eksekutif The Tor Projecy Inc., Andrew Lewman. "Saya pikir pemerintah Iran telah belajar dengan cepat tentang bagaimana mereka mengontrol semua ini," ujarnya seperti yang dikutip detikINET dari MSNBC, Senin (27/7/2009).
Tak kurang akal, Tor Projecy pun menawarkan program mereka secara gratis melalui download. Dengan pengunduhan ini, warga Iran diperbolehkan untuk bekerja melalui jaringan yang di-relay oleh sukarelawan di seluruh penjuru dunia.
Mereka bebas mengakses situs yang diblokir dan menyembunyikan jejak apa-apa saja yang telah mereka lakukan di internet. Kini jumlah pengguna program ini telah melonjak pasca pemilihan presiden, dari yang semula ratusan hingga sekarang menjadi ribuan. Oleh sebab itulah meski diblokir, sejumlah tweet di Twitter, dan video yang mengguncang YouTube tetap berkibar.
Dua-duanya kuat, dua-duanya punya akal dan pemikiran sendiri. Dunia maya, khususnya di Iran memang penuh intrik. Mari kita lihat saja, sampai kapan 'perang' ini akan berlangsung.
(sha/ash)