Jennie Noll, salah satu psikolog yang terlibat dalam studi itu meminta 173 gadis untuk membuat avatar masing-masing. Kemudian, Noll merating seberapa provokatif avatar tersebut, misalnya dengan melihat tampilan pakaian atau ada tidaknya tindikan.
Noll pun terkejut melihat banyaknya avatar yang terlalu provokatif dan 'mengundang'. Padahal, para gadis yang menciptakan avatar provokatif lebih berpotensi terkena rayuan seksual di internet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karenanya, orang tua harus lebih memperhatikan bagaimana anak-anak merepresentasikan diri mereka di dunia online," sahut Noll. Orang tua juga sebaiknya berbicara pada anak-anak tentang risiko menampilkan avatar yang terlalu seksi dan provokatif.
Noll menambahkan kalau para gadis perlu diperingatkan pula bahwa karakter online yang terlalu berlebihan bakal mempengaruhi citra mereka di dunia nyata. Demikian seperti dilansir USNews dan dikutip detikINET, Rabu (27/5/2009). (fyk/faw)