Dikutip detikINET dari AFP, Selasa (3/2/2009), dimulai tahun 1995 periset meneliti pengaruh media elektronik pada sekitar 4000 remaja yang bebas depresi. Responden diketahui menghabiskan waktu 5,68 jam sehari dengan media elektronik seperti televisi dan video game.
Beberapa tahun kemudian, ketika para partisipan itu rata-rata berusia 21 tahun, 7,4 persen di antaranya (308 orang) mempunyai gejala depresi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para periset menjelaskan, depresi kemungkinan timbul karena saking asyiknya mengakses media elektronik, para remaja jarang melakukan aktivitas sosial yang bisa mencegah depresi. Selain itu, konten yang ada di media elektronik juga bisa bikin depresi.
Para remaja juga mungkin jadi kurang tidur. Padahal pola tidur yang sehat dinilai penting dalam pengembangan emosi dan kognitif seseorang.
(fyk/faw)