Demikian dikatakan Kasubdin Bina Program Dinas Pendidikan Jawa Barat Asep Hilman yang ditemui detikINET di ruang kerjanya, jalan Dr. Rajiman No. 6, baru-baru ini.
"Ponsel secara perlahan tapi pasti telah menggeser nilai pendidikan anak sekolah. Alat komunikasi tersebut telah menggantikan pola komunikasi antara guru, orang tua dan yang lainnya terhadap siswa," kata Asep.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, ponsel juga dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan siswa yang bolos sekolah. Sebab, saat ini banyak konten negatif yang berseliweran di ponsel anak.
"Secara psikologis, anak-anak cenderung lebih cepat menyerap hal negatif tersebut ketimbang pelajaran di sekolah. Nah, kalau bolos kan secara fisik si anak tidak ada di kelas jadi untuk melakukan pembinaan juga mudah. Kalau ini, secara fisik anaknya ada di kelas duduk, tapi di bawah mejanya dia buka-buka konten yang nggak bener di hpnya. Ini bahaya," tegas Asep.
Menurut Asep, saat ini pihaknya telah memberikan imbauan kepada sekolah dan orang tua murid untuk tidak mengaktifkan ponsel milik siswa saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
(afz/dwn)