Hal inilah yang tengah coba dilakukan oleh Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) untuk menggelar acara pelatihan 'komputer bicara' bagi penyandang tunanetra.
Pelatihan komputer ini diharapkan dapat melahirkan penyandang tunanetra yang memiliki kemampuan untuk 'melek' teknologi informasi. Bukan malah sebagai sesuatu yang harus ditakutkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Komputer bicara' pada umumnya sama seperti komputer pada umumnya. Hanya saja yang membedakan adalah software yang terdapat di dalamnya. Pada pelatihan ini Pertuni menggunakan software screen reader bernama JAWS.
Software inilah yang membuat komputer menjadi 'berbicara'. Sebab, aktivitas apapun yang dilakukan komputer ini seperti menyorot ataupun menekan suatu tombol hingga hasil ketikan akan divisualisasikan melalui suara. Sehingga bakal memudahkan para penyandang tunanetra untuk mengoperasikan sebuah komputer.
Pelatihan ini sendiri rencananya akan dilakukan selama beberapa hari. Sayangnya, peserta yang ikut serta hanya 15 orang yang merupakan utusan dari 5 Dewan Pengurus Cabang (DPC) Pertuni di wilayah Jakarta. Para peserta ini akan dibimbing oleh instruktur tunanetra yang telah mahir dalam menggunakan komputer 'bicara'.
Diharapkan, pelatihan seperti ini akan terus berlanjut. Namun masalahnya, kerap kali terkendala ketersediaan biaya untuk membeli software screen reader yang terbilang mahal. Seperti harga software JAWS yang dibanderol di kisaran harga US$ 1000 per lisensi.
"Kami berharap pemerintah dapat memberikan subsidi komputer bicara untuk organisasi semacam ini. Di negara Singapura saja komputer semacam ini sudah di subsidi," tukas Ade. (ash/ash)