Setidaknya demikian menurut Ariya Hidayat, Software Engineer Nokia yang sehari-harinya bermarkas di Oslo, Norwegia.
"Di Nokia, kami diberi kebebasan penuh untuk berekspresi," kata pria lulusan ITB dan University of Paderborn, Jerman, ini kepada detikINET di sela WOSOC 2008 di Hotel Dynasty, Bali, Rabu (3/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sehari-hari pakai iPhone meski dari kantor dapat jatah E61. Nggak masalah kok. Kantor tahu saya tidak suka sama ponsel ini," ujarnya.
Sebagai pegawai Nokia, Ariya juga terang-terangan suka dengan platform Android yang tengah dikembangkan Google. Bahkan, akunya, bos Nokia rela membelikannya ponsel G1 T-Mobile untuk sekadar jadi bahan presentasi Nokia.
"Tidak menutup kemungkinan nantinya Nokia akan kerjasama dengan Google untuk menyediakan layanan. Sebab, yang jadi nilai jual Nokia sekarang bukan cuma handset saja, tapi layanan. Misalnya, Nokia 5800 yang menggratiskan download lagu setahun penuh. Nah, value-nya dari situ. Sekarang, handset yang dijual hampir tak ada harganya lagi," papar pemilik gelar Doktor ini.
Mental Defensif
Kantor Nokia hampir mirip dengan kantor Google, mulai dari pingpong, Atari, sampai Nintendo Wii, ada. Kami juga dibebaskan soal absensi, yang penting result oriented," jelasnya.
Nah, kebiasaan kultur terbuka itulah yang kemudian membuat para pengembang software Nokia di Oslo akhirnya jadi punya kebebasan berekspresi, tak hanya terpatok pada satu platform tertentu, baik open source maupun proprietary.
Ariya sendiri sempat merasakan reverse culture shock setelah lama tak kembali ke Indonesia. Sebab, perusahaan pengembang dan software engineer lokal, menurutnya, terlalu mental defensif dan terikat pada suatu produk.
"Padahal seharusnya jangan begitu. Mental defensif harus ditinggalkan kalau mau maju," pungkas Ariya. (rou/dwn)