Dari survei yang digelar situs cari kerja online CareerBuilder.com, terungkap bahwa perusahaan mengandalkan situs jejaring sosial untuk menentukan apakah mereka akan merekrut kandidat tersebut atau tidak.
Sebanyak 22% manajer perekrutan mencari informasi lebih calon karyawannya lewat profil situs jaringan sosial. Sementara 9% lagi mengaku belum memanfaatkan situs jejaring itu, namun sudah berencana melakukannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua alasan utama mengapa kandidat itu dieliminasi, pertama adalah karena memposting informasi mengenai penggunaan narkoba ataupun minuman keras (41 persen). Alasan kedua, karena kandidat tersebut memposting foto-foto yang tidak sesuai atau informasi provokatif (40 persen).
Alasan lainnya, seperti dikutip detikINET dari Reuters, Jumat (12/9/2008), karena kemampuan komunikasi yang buruk, berbohong tentang kualifikasi, menggunakan ucapan yang diskriminatif tentang jenis kelamin atau agama, dan nama tidak profesional. Β
Namun tidak semuanya jelek di mata manajer. Sebanyak 24 persen manajer mengatakan mereka menemukan konten yang bisa memperkuat keputusan mereka untuk merekrut calon tersebut.
Alasan utamanya termasuk latar belakang calon karyawan yang mendukung kualifikasi mereka untukΒ pekerjaan, terbukti memiliki keterampilan komunikasi yang baik, dan tertarik dengan tampilan situs yang berkesan profesional.
"Manajer perekrutan menggunakan Internet untuk mendapatkan pandangan lebih tentang calon karyawannya baik dalam hal keterampilan, prestasi," kata Rosemary Haefner, juru bicaraΒ CareerBuilder.com.
Akibatnya, lanjut Haefner, banyak pencari kerja yang memilih untuk membuat profil di situs jejaringΒ sosial yang lebih bersahabat. Enam belas persen karyawan yang mempunyai situs jejaring sosial mengaku mengubah konten profil mereka untuk agar tampil lebih profesional.
(dwn/wsh)