Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Catatan oleh Rama
Menjelajahi 'Si Seksi' Luar Dalam
Catatan oleh Rama

Menjelajahi 'Si Seksi' Luar Dalam


- detikInet

Jakarta - Akhirnya, setelah lama bermimpi-mimpi memilikinya, dan berdesak-desakan di hari peluncurannya, -- 26 Januari 2008 -- di Mall Kelapa Gading 2 Jakarta - Indonesia, subnotebook Asus EEE PC pun berada di genggaman tangan dan resmi menjadi milik penulis. Ya, inilah saat yang ditunggu-tunggu untuk me-review si mungil ini...!

Dalam review ini, penulis tidak akan memberikan spesifikasi Asus EEE PC secara detaill, pasalnya produk ini telah ribuan kali di-review di internet. . penulis akan memfokuskan pada pengalaman pribadi penulis saat menggunakan Asus EEE PC itu sendiri.

Sebelum melanjutkan, perkenalkan...ini Asus EEE PC milik penulis, namanya Via (mohon maaf apabila secara kebetulan nama ini sudah digunakan untuk orang/merek/penyebutan lain). Mengapa penulis memberinya nama? Selain karena penulis gemar memberikan nama-nama indah pada benda-benda kepunyaan penulis, dan menggunakannya untuk membedakan milik sendiri dengan milik orang lain, nama itu cukup manis dan singkat untuk menggantikan kalimat Asus EEE PC yang mungkin harus penulis sebut atau tulis berulang-ulang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat pertama  kali memboyong Via dari meja kasir dan menggendongnya sambil bersorak-sorai (baca: masih dalam keadaan terbungkus), penulis merasa begitu senang dan takjub. Bukan hanya karena akhirnya penulis mendapatkan gadget yang penulis idam-idamkan sejak lama, tapi juga karena dapat membayangkan betapa ringannya Via.
Bayangkan! Padahal masih berada di dalam box, dan  penulis sudah memasukkannya ke dalam tas ransel yang penulis panggul, tapi punggung penulis sama sekali tidak terbebani! Wah, bagaimana jadinya kalau Via-ku yang berbobot hanya 0,9 kg itu kukeluarkan dari boxnya? Pasti ringan sekali...!

Benar saja! Setibanya di rumah, penulis langsung memberi Via tempat istimewa di meja kerja penulis, sehingga dia bisa duduk dengan manisnya, memamerkan body warna hitamnya yang "sexy." OK, ini saatnya berkenalan lebih jauh dengan Via...!

Saat mengamati tampilan fisiknya (dibantu teman yang berpenglihatan), Via betul-betul tampak manis. Meskipun harganya di bawah lima jutaan, seri 701/4G yang penulis miliki ini tidak terlihat murahan. Body-nya terbuat dari bahan plastik tebal yang kokoh, tapi tetap lembut disentuh. Dominasi warna hitamnya menjadikan Via terlihat lebih modern, dan tentu saja tak akan cepat berubah warna karena kotor. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah ketika hendak membuka atau menutup flip monitor, karena untuk operasi buka tutupnya tidak menggunakan sistem penguncian, tapi menggunakan sistem katup. Jadi, jangan terlalu keras menutup flipnya, karena layar LCD dan keyboard bisa berbenturan.

Untuk komponen luarnya -- kecuali optical drive yang memang ditiadakan -- sudah tergolong lengkap. Tersedia 3 port USB 2.0, jack keluaran microphone dan earphone, VGA out untuk menyambungkan laptop ke proyektor atau layar monitor yang lebih besar, dan port untuk dial-up/broadband cable. sayangnya, tak ada slot PCMCIA di tubuh Via, jadi jangan berharap bisa menggunakan perangkat PCMCIA bersama Via. Oh ya, colokan adaptor ada di bagian belakang laptop!

Untuk soal pengalihan suhu panas dari laptop, tampaknya hanya ada satu bagian, yaitu di sisi kiri laptop. Jadi, jangan mendudukkan laptop di atas kain atau benda-benda yang tak dapat dialiri udara, karena bagian bawah laptop akan cepat panas.

Nah, sudah puas "menjelajahi" bagian luar tubuh Via? Yuk, kita lihat apa-apa saja yang ada di dalam tubuh Via! Apa lagi kalau bukan sistem operasi dan aplikasi bawaannya?

Setelah laptop dihidupkan dan proses booting berjalan selama kira-kira 10 detik, di layar akan tampak desktop Xandros Linux. Secara default, mode yang digunakan adalah "Easy Mode," sebuah modus yang mudah digunakan oleh pengguna awam, anak-anak, atau mereka yang baru belajar komputer. Namun, modus ini tidak memberikan akses penuh untuk mengutak-atik isi sistem operasi.

Di bagian bawah layar terdapat taskbar yang mirip dengan kepunyaan Windows XP. Taskbar ini akan menampilkan jam, pengatur suara, dan aplikasi-aplikasi yang tengah dijalankan. Sementara itu, di bagian atas layar terdapat beberapa tab, yaitu Internet, Work, Learn, Play, dan Settings.

Nah, tab-tab tersebut yang menjadi keistimewaan Xandros Linux yang telah dikustomisasi khusus untuk Asus EEE PC, karena jika diklik, akan muncul aplikasi-aplikasi yang sesuai dengan keterangan tab-nya. Misalnya, jika Anda klik tab Work, akan muncul berbagai aplikasi -- paket OpenOffice.org -- yang dapat digunakan untuk bekerja, seperti pengolah kata, spreadsheet, dan database.

Ingin browsing, chating, kirim e-mail, atau ngobrol via Skype? Klik saja tab Internet, maka aplikasi-aplikasi yang Anda butuhkan sudah tersedia. Anda dapat browsing menggunakan Mozilla FireFox, atau chating dengan Pigeon (multi-messenger client). Anda juga dapat melakukan pengaturan terhadap konektivitas internet, baik itu koneksi wireless maupun cable.

Selebihnya, Anda juga dapat menonton film, bermain game, meng-edit foto, dan melakukan pengaturan terhadap sistem operasi. Jika diinginkan, Anda dapat mengaktifkan modus penuh yang akan memberi Anda akses terhadap seluruh aplikasi dalam Xandros Linux.

Sedikitnya terdapat 40 aplikasi open source yang dapat Anda gunakan. Secara umum, aplikasi-aplikasi yang disertakan dalam Asus EEE PC sudah cukup untuk mengakomodasi keperluan penggunanya. Namun, jika dirasa masih kurang, Anda dapat meng-install aplikasi lain. Anda bahkan dapat meng-upgrade sistem operasi ke Windows XP, karena Asus EEE PC juga kompatibel dengan sistem operasi besutan Microsoft tersebut.

Yang perlu diingat, Xandros Linux hanya menyisakan sekitar 1,3GB ruang memori, sedangkan Windows XP Service Pack 2 (tanpa proses pengurangan file instalasi) akan memberi ruang sebesar 1,5GB.

Lalu, apakah Asus EEE PC ini cocok untuk pengguna komputer kalangan mainstream? Dengan berdasar pada pengalaman pribadi penulis bersama Via, dan meminta beberapa orang teman untuk menjadi tester, penulis menyimpulkan bahwa subnotebook besutan Asus ini berhasil menjalankan misi utamanya; Menjadi sebuah komputer yang "user-friendly" dan terjangkau bagi pengguna mainstream. Hal ini dapat kita lihat dari kelengkapan aplikasi bawaannya yang telah mengakomodasi berbagai kebutuhan, baik untuk bekerja, bermain, atau belajar. Jadi, untuk keperluan di atas, rasanya tak perlu lagi menambah aplikasi lain.

Faktor terakhir, tentu saja harganya yang berada di bawah rata-rata, yang tentunya sangat pas dengan kalangan mainstream (lihat antrean calon pembeli pada peluncuran EEE PC di Mall Kelapa Gading 2).

Dengan kecepatan prosesor Intel Celeron M sebesar 600MHz (downgrade dari 900MHz untuk mengurangi panas), RAM 512MB, dan media penyimpan sebesar 4GB, aktivitas sehari-hari seperti mengetik, berselancar di internet, chating, nge-blog, atau belajar, semuanya dapat berjalan dengan baik. Masalah utama mungkin ada pada ruang simpan data yang sangat terbatas, dan tidak tersedianya optical drive untuk menjalankan CD/DVD.

Yang menjadi  pertanyaan menarik adalah; Apakah Via (Asus EEE PC milik penulis-red) benar-benar dapat membantu penulis dan juga tunanetra lainnya?

Secara keseluruhan, penulis merasa puas bisa memiliki Via. Meski spesifikasi teknisnya minimalis, laptop ini telah berhasil mengakomodasi hampir seluruh kegiatan berkomputer penulis. Ukurannya yang mungil dan beratnya yang tak sampai 1 kg membuat penulis leluasa membawanya kemana pun dan bekerja dalam kondisi apa pun.   

Pengguna tunanetra, atau mereka yang memiliki ukuran jari besar juga harus menyesuaikan diri dengan tata letak tombol keyboard, mengingat ukurannya yang sangat kecil. Namun, dengan sedikit penyesuaian, Anda akan cepat menguasai keyboard dan dapat kembali menarikan jari Anda di atasnya seperti ketika menggunakan laptop biasa.

Hanya saja, tunanetra tak dapat langsung menggunakan laptop ini, pasalnya Xandros Linux tidak memiliki aplikasi pembaca layar. Mungkin akan beda ceritanya kalau sistem operasi bawaannya adalah Ubuntu, mengingat distro ini sudah memiliki pembaca layar.

CATATAN: Penulis (tunanetra-red) mengganti distro Xandros Linux dengan Ubuntu, yang di dalamnya telah terintegrasi sebuah aplikasi pembaca layar bernama Orca.  

* Penulis, Eko Ramaditya Adikara (Rama), adalah seorang tuna-netra yang gemar menulis menggunakan komputer. Penulis tergabung dalam Yayasan Mitra Netra (MitraNetra.or.id). Blog pribadinya dapat dibaca di alamat www.ramaditya.com.

(wsh/wsh)







Hide Ads