Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Catatan oleh Rama
Mimpi Laptop Seorang Tunanetra
Catatan oleh Rama

Mimpi Laptop Seorang Tunanetra


- detikInet

Jakarta - Siapa yang tak kenal Asus EEE PC? Laptop mungil besutan Asus itu telah menjadi primadona gadget di seluruh dunia tahun 2007 lalu. Akhirnya, EEE PC resmi menyambangi Indonesia pada 26 Januari 2008.

Sebagai salah seorang yang telah menantikan kehadiran Asus EEE PC di Indonesia, penulis ingin membagikan pengalaman penulis seputar Asus EEE PC, mulai dari impian penulis bila memiliki Asus EEE PC, pengalaman saat mengikuti launching Asus EEE PC, hingga review singkat saat pertama kali menggunakannya...!

(Bagian 1 dari 3 Tulisan)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai blogger dan jurnalis tunanetra, kegiatan "baca tulis" tentunya telah menjadi salah satu rutinitas penulis sehari-hari. Mengingat jenis pekerjaan ini menuntut penulis untuk "mobile" alias berpindah dari satu tempat ke tempat lain, maka laptop-lah yang menjadi rekan kerja penulis. Sebuah laptop yang tak harus "powerful," tapi cukup ringkas untuk dibawa kemana-mana, merupakan persyaratan utama bagi kelancaran pekerjaan penulis.

Sekali lagi, karena penulis adalah tunanetra, maka laptop yang ukurannya cukup besar sangat mengganggu pergerakan penulis. Maklum, rasanya bukan tunanetra tulen kalau tidak menabrak sesuatu tiap harinya. Alhasil, laptop kesayangan penulis -- sebelum Asus EEE PC -- yang beratnya melebihi 2kg dan berlayar 14 inci ini pun sering menjadi tameng pelindung saat penulis menabrak sesuatu. Sebagai hasilnya, chasing laptop penulis jadi penuh baret-baret dan retak-retak.

Selain itu, penulis pun tak terlalu sering menggunakan fasilitas-fasilitas seperti drive optikal atau hard disk yang terlampau besar, karena untuk aktivitas berkomputer yang terlalu "berat" seperti mengkonversi file atau membuat musik, penulis lebih memilih menggunakan PC. Tak heran kalau kondisi drive optikal laptop penulis masih prima dan ruang hard disk pun baru terpakai seperdelapannya saja.

Sempat penulis berkhayal; Seandainya saja penulis bisa memangkas tubuh si laptop, menghilangkan fasilitas-fasilitas yang tak diperlukan, sehingga menjadikannya lebih ringan dan efisien, tentunya akan sangat memudahkan pekerjaan penulis. Selain itu, seandainya layar laptop penulis berukuran lebih kecil (kalau bisa di bawah 12 inci, atau tidak perlu pakai LCD sama sekali mengingat penulis adalah tunanetra), tentu penulis akan lebih mudah melindungi laptop agar tidak ikut terbentur ketika penulis bermobilitas.

Tak disangka, khayalan penulis itu akan menjadi kenyataan, meskipun caranya yang berbeda. Ternyata, bukan laptop penulis yang harus dipangkas, tapi penulis harus mengganti laptop lama itu dengan yang baru!

Semua itu berawal ketika penulis memperoleh informasi via internet -- pertengahan tahun 2007 -- tentang Asus EEE PC, laptop mungil besutan Asus. Saat itu, penulis terpana membaca spesifikasi laptop dan harga yang ditawarkan. Keduanya sama sekali berada di bawah laptop milik penulis sebelumnya. Asus EEE PC hanya menggunakan Intel Celeron 900MHz sebagai prosesor, dan RAM sebesar 512 MB (dapat di-upgrade), dan media penyimpannya -- SSD Card -- hanya berkapasitas 4 GB (Untuk seri 701). Harganya? Di bawah 5 juta!

Tapi, yang paling membuat terkejut penulis adalah ketika mengetahui ukuran layarnya yang hanya 7 inci, dan beratnya yang tak sampai 1kg. Wah, tentu ringan sekali, barangkali hanya seberat dua kotak pembungkus DVD yang ditumpuk jadi satu!

Lagi-lagi penulis harus mengira-ira seperti apa bentuk laptop EEE yang punya kepanjangan "Easy to Learn, Easy to Work, Easy to Play" ini. Pasti bentuknya mungil serta ringan, sehingga mudah dibawa-bawa.

Namun, dengan hanya membayangkannya saja sudah cukup untuk melahirkan satu perandaian lagi. "Seandainya penulis punya Asus EEEE PC, penulis akan..."

Lama sekali penulis memikirkan hal-hal apa saja yang ingin dimasukkan dalam titik-titik di perandaian, dan merealisasikannya segera setelah Asus EEE PC menjadi milik penulis. Untunglah,perandaian itu tak sia-sia, karena Asus EEE PC sudah mulai beredar di Indonesia Januari 2008 ini!

Jadi, apa yang akan penulis lakukan dengan Asus EEE PC?

1. Tampil Nyentrik!

Apa yang ada dalam benak Anda kalau melihat seorang tunanetra mengoperasikan sebuah laptop? Heran, tentu saja. Selain karena tunanetra di Indonesia memang jarang terlihat berinteraksi dengan laptop, hilangnya fungsi penglihatan tentunya akan membuat orang-orang bertanya-tanya, "Bagaimana mereka bisa mengoperasikan komputer kalau tidak bisa melihat layarnya?"

Nah, penulis ingin sekali bisa menjawab, "ini buktinya" saat Asus EEE PC berada di tangan. Ingin rasanya penulis mempertunjukkan tari-temari jari-jemari penulis yang terbiasa mengetik 50 kata dalam satu menit di atas keyboard laptop, yang kemungkinan akan lebih cepat lagi di atas Asus EEE PC, mengingat desain keyboardnya yang
sangat ergonomis (penulis pernah merabanya di sebuah pameran bulan November 2007 lalu). Wah, pasti seru dan gaya!

Bagaimana bisa? Jawabannya ada di poin kedua!

2. Belajar Linux

Selama ini, penulis sudah terbiasa mengoperasikan komputer atau laptop dengan menggunakan program pembaca layar, yaitu jenis aplikasi yang dapat mengubah teks yang tampil di monitor menjadi suara. Jadi, penulis bukannya membaca, melainkan mendengar teks-teks menu, e-mail, atau aplikasi, yang semuanya dibacakan oleh pembaca layar!

Selama ini, penulis menggunakan sistem operasi Windows XP dan beberapa distro Linux yang sudah dilengkapi pembaca layar. Nah, penulis penasaran ingin menjajal Xandros Linux, sistem operasi yang dibenamkan di dalam Asus EEE PC. Mengingat aplikasi bawaannya sudah tergolong lengkap (pengolah kata, browser, multimedia, dan chat client), maka penulis -- dan pengguna tunanetra lainnya barangkali -- akan sangat dimanjakan apabila ada pembaca layar yang mendukung Xandros Linux.

Jadi, tak perlu repot install aplikasi lagi untuk semua kebutuhan!

3. Sosialisasi Laptop Untuk Tunanetra

Bicara soal yang satu ini, sebenarnya sudah tergagas sejak lama, dan penulis yakin bahwa banyak rekan-rekan tunanetra yang ingin memiliki laptop dan belajar ilmu komputer. Sayangnya, harga laptop yang beredar di pasaran masih terlampau mahal, sehingga agak sulit terjangkau.

Nah, kalau penulis punya Asus EEE PC, maka proyek sosialisasi laptop untuk tunanetra dapat lebih mudah penulis jalankan. Kenapa? Selain harganya yang jauh lebih murah dan ukurannya yang lebih pas untuk bermobilitas dengan tunanetra, spesifikasi teknis Asus EEE PC sudah lebih dari cukup untuk tunanetra belajar mengetik, berselancar di internet, telepon via Skype, bahkan nge-blog seperti penulis!

Penulis, Eko Ramaditya Adikara (Rama), adalah seorang tuna-netra yang gemar menulis menggunakan komputer. Penulis tergabung dalam Yayasan Mitra Netra (MitraNetra.or.id). Blog pribadinya dapat dibaca di alamat www.ramaditya.com.
(wsh/wsh)







Hide Ads
LIVE