Upgrade dari kamera smartphone Samsung dari seri flagship, khususnya Galaxy S26 series, selalu menjadi perbincangan. Tak hanya soal megapixel dan AI ada filosofi yang menjadi dasar pengembangan kameranya.
Head of Visual Solutions Team Samsung Electronics Sungdae Joshua Cho menyebut filosofi kamera Galaxy sederhana: setiap foto adalah bahasa kehidupan.
Menurut Cho, foto bukan sekadar gambar, melainkan cara manusia menyampaikan emosi. Kamera harus mampu menangkap perasaan di setiap momen, baik siang maupun malam, dalam kondisi diam, bergerak, zoom, hingga macro.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fotografi adalah sebuah bahasa," ujarnya, beberapa waktu lalu.
Cho menjelaskan pendekatan itu membuat timnya tak hanya fokus pada spesifikasi, tetapi pada bagaimana kamera bisa digunakan kapan saja tanpa hambatan.
Cho menyebut banyak insinyur yang sebelumnya mengembangkan kamera DSLR kini terlibat dalam pengembangan kamera Galaxy.
Untuk mewujudkan filosofi tersebut, Samsung menetapkan lima pilar utama dalam pengembangan kamera Galaxy S26.
Pertama, esensi cahaya, yang menempatkan cahaya sebagai fondasi utama gambar. Pilar kedua yaitu kehadiran manusia, termasuk pengembangan bokeh dan tone selfie agar representasi manusia lebih natural.
Ketiga, kemampuan digunakan kapan saja, termasuk penguatan nightography dan stabilisasi video. Keempat, creative for all, lewat dukungan Pro Mode dan Expert RAW.
Terakhir, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melampaui batas, yang menjadi fondasi sistem pemrosesan gambar terbaru di Galaxy S26.
Dengan pendekatan ini, Samsung memposisikan kamera Galaxy bukan hanya sebagai perangkat keras, melainkan alat komunikasi visual.
Dari mengambil gambar, mengedit, hingga membagikan, seluruh proses dirancang agar emosi dalam sebuah momen dapat tersampaikan tanpa hambatan teknis.
(prf/ega)