Bagi Indonesia, Laptop Murah Masih Kemahalan
- detikInet
San Francisco -
Memproduksi laptop berharga murah bagi pelajar negara berkembang adalah ide bagus. Contohnya saja proyek One Laptop Per Children (OLPC). Namun ada anggapan harganya masih kemahalan bagi negara sasaran termasuk Indonesia. Diperkirakan, ada 40 juta siswa di Indonesia. Jika mereka semua dibelikan laptop XO besutan OLPC dengan harga satuan berkisar US$ 200, biaya total yang harus dikeluarkan mencapai US$ 8 miliar. Jumlah ini 3 kali lipat lebih besar daripada anggaran Indonesia untuk melancarkan program wajib belajar tahun 2007.Disebutkan, Departemen Pendidikan di negara berkembang lainnya juga menghadapi masalah yang sama dengan Indonesia. Hanya ada sedikit anggaran pendidikan untuk membiayai proyek ini. Maka diragukan apakah proyek ini akan menjangkau sasaran.Ini pula yang mungkin jadi sebab mengapa produksi laptop OLPC tersendat-sendat. Salah satu usaha untuk menyelesaikan masalah adalah dengan program beli satu dapat dua bagi konsumen di negara maju. Dengan uang sebesar US$ 400, konsumen akan mendapat satu laptop untuk dirinya dan satu laptop lagi didonasikan ke negara berkembang.Tak hanya OLPC, perusahaan prosessor Intel juga punya kesulitan serupa dengan proyek Classmate PC-nya. Kini, mereka sedang mencari cara yang tepat agar proyek ini tepat sasaran, yaitu menjangkau para pelajar negara berkembang.Salah satu yang diusulkan adalah sistem kredit untuk laptop ini yang telah disubsidi. Pendapatan GDP per kapita orang Indonesia tahun 2006 yang hanya US$ 3.900 memang jauh dari negara maju macam Amerika Serikat dengan US$ 43.800 per tahun sehingga sistem kredit mungkin bisa jadi solusi."Subsidi bisa dilakukan baik oleh pemerintah ataupun perusahaan-perusahaan," sebut Leighton Philips, manajer Intel's World Ahead Program di Asia seperti dikutip detikINET dari InfoWorld, Kamis (11/10/2007).
(fyk/fyk)