×
Ad

Kisah Tragis BlackBerry, Saat Layar Sentuh Membunuh Raja Keyboard

Adi Fida Rahman - detikInet
Selasa, 30 Des 2025 09:45 WIB
Halaman ke 1 dari 2
Kisah Tragis BlackBerry, Saat Layar Sentuh Membunuh Raja Keyboard Foto: Getty Images
Jakarta -

Pada awal 2000-an, nama BlackBerry identik dengan ponsel pintar kelas atas. Perangkat ini menjadi simbol profesionalisme, efisiensi, dan keamanan tingkat tinggi.

Keyboard QWERTY fisiknya yang khas membuat mengetik email panjang terasa cepat dan akurat, sementara layanan push email-nya dianggap revolusioner pada masanya. Di kantor-kantor dan ruang rapat, BlackBerry adalah standar penting.

Namun kejayaan itu tidak berlangsung lama. Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, BlackBerry perlahan tergeser dari puncak industri hingga akhirnya tersingkir. Penyebab utamanya bukan sekadar persaingan harga atau spesifikasi, melainkan perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dengan ponsel: hadirnya layar sentuh.

Era Baru Dimulai dari iPhone

Titik balik industri ponsel terjadi pada 2007, saat Apple memperkenalkan iPhone generasi pertama. Berbeda dari ponsel pintar saat itu, iPhone hadir tanpa keyboard fisik. Seluruh bagian depannya adalah layar sentuh yang dapat merespons sentuhan, gesekan, dan cubitan jari.

Awalnya, pendekatan ini disambut skeptis. Banyak pengguna-termasuk eksekutif BlackBerry-meragukan kenyamanan mengetik di layar datar tanpa tombol fisik.

Namun seiring waktu, layar sentuh justru mengubah ekspektasi pasar. Antarmuka yang visual, fleksibel, dan intuitif membuat ponsel tak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan pusat hiburan, kreativitas, dan gaya hidup digital.

BlackBerry Storm Foto: Unwired View

Terlambat Menyadari Perubahan Tren Konsumen

Layar sentuh membuka peluang yang tak bisa ditandingi keyboard fisik. Ukuran layar yang lebih besar memungkinkan pengalaman menonton video, bermain gim, dan menjelajah web menjadi jauh lebih nyaman. Sistem operasi berbasis sentuhan juga memberi ruang bagi ekosistem aplikasi yang kaya, dari media sosial hingga layanan produktivitas modern.

Sementara itu, BlackBerry tetap berpegang pada identitas lamanya. Perusahaan ini terus menempatkan keyboard fisik sebagai keunggulan utama, dengan fokus kuat pada email dan keamanan korporasi. Strategi tersebut membuat BlackBerry terlambat beradaptasi saat selera pengguna bergeser ke ponsel multifungsi yang lebih fleksibel dan menyenangkan digunakan.

BlackBerry sebenarnya menyadari ancaman layar sentuh, tetapi responsnya cenderung setengah hati. Mereka akhirnya mencoba mengejar ketertinggalan dengan meluncurkan BlackBerry Storm (ponsel layar sentuh pertama mereka), hasilnya justru mengecewakan.

Perangkat tersebut penuh dengan bug dan mekanismenya terasa canggung bagi pengguna. Makin diperparah lagi sistem operasinya tertinggal dibandingkan rival yang lebih cepat ditambah kurang agresifnya membangun platform aplikasi.



Simak Video "Video: Penjualan iPhone Air Merosot, Brand Lain Tunda Produksi HP Bodi Tipis!"

(afr/afr)
HALAMAN SELANJUTNYA
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork