Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ramai-Ramai Tinggalkan Tanah Impian Virtual

Ramai-Ramai Tinggalkan Tanah Impian Virtual


- detikInet

Jakarta - Setelah berbagai perusahaan besar ramai-ramai menyerbu negeri virtual Second Life, kini mereka berbondong-bondong meninggalkannya. Ada apa dengan tanah impian itu? Second Life, sebuah dunia virtual yang dikembangkan oleh Linden Labs, sempat menimbulkan kehebohan di kalangan bisnis. Berbagai perusahaan besar pun ramai-ramai membeli kapling di negeri virtual itu dan mendirikan gedung-gedung untuk mempromosikan bisnis mereka. Selama beberapa waktu, semua terlihat baik-baik saja. Konferensi pers digelar di dunia online, penjualan barang-barang virtual pun bisa terjadi. Perusahaan seperti IBM, Dell, Sun Microsystem, Nissan, hingga Reebook, pun lekat dengan citra 'terdepan' karena berani hadir di dunia virtual. Namun kemudian mulai muncul protes. Warga Second Life menganggap perusahaan-perusahaan besar itu hanya sekadar mencari publisitas di Second Life. Protes pun digelar, toko online Reebok misalnya diserang dengan bom nuklir. Toko lain mengalami teror berupa penembakan terhadap pengunjung yang mendekat. Insiden-insiden tersebut, entah berkaitan atau tidak, kemudian disusul dengan hengkangnya bisnis-bisnis besar dari Second Life. Seperti dilansir LA Times, yang dikutip detikINET, Senin (16/7/2007), pulau-pulau milik perusahaan besar itu mulai ditinggalkan. Pulau milik Dell, sebut LA Times, tampak ditelantarkan. Jadwal acara di lokasi milik Sun Microsystem pun kini kosong melompong. Pulau Geek Squad dari jaringan toko Best Buy pun sepi, baik dari pengunjung atau pekerja layanan pelanggan yang harusnya siap sedia di situ. Tak Sesuai HarapanIan Schafer, Chief Executive Deep Focus, sebuah perusahaan pemasaran online, mengatakan kebanyakan penduduk Second Life tidak suka dengan lokasi milik perusahaan besar. Mereka, lanjut Schafer, lebih menyukai aktivitas ganjil seperti seks virtual, judi, dan sebagainya. Alasan lain kepergian para perusahaan besar adalah sedikitnya pengunjung Second Life. Meski Linden mengkalim penduduk Second Life ada 8 juta, angka ini ternyata termasuk jumlah yang mendaftar tapi tidak aktif dan identitas ganda. Brian Haven, dari Forrester Research, mengatakan pada kondisi terbanyak pun pengunjung Second Life hanya mencapai 30.000-40.000 orang. "Ini angka yang jauh lebih kecil dari yang biasa dijangkau oleh pemasang iklan," ujar Haven. Perusahaan seperti IBM, yang memiliki eksistensi sangat kuat di Second Life, bahkan sudah mulai melihat pilihan lain. IBM dikabarkan telah mulai merambah negeri virtual seperti 'There' dan 'Entropia Universe'. Hal sama dilakukan Millions of Us, sebuah agen konsultasi yang menangani masuknya bisnis besar ke dunia virtual. "Masalahnya bukan apakah Second Life baik atau buruk, hanya saja ada banyak alternatif lain di luar sana," ujar CEO Millions of Us, Reuben Steiger. (wsh/wsh)




Hide Ads