Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Observatorium Timau Bagikan Kilatan Meteor Perseid 13 Agustus

Observatorium Timau Bagikan Kilatan Meteor Perseid 13 Agustus


Rachmatunnisa - detikInet

People look out for shooting stars as the moon sets during the annual Perseid meteor shower at Migra l-Ferha, outside the town of Rabat, Malta August 12, 2024. REUTERS/Darrin Zammit Lupi
Ilustrasi hujan meteor Perseid. Foto: REUTERS/Darrin Zammit Lupi
Jakarta -

Kilatan meteor Perseid tertangkap kamera Allsky Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur, pada 13 Agustus 2026. Momen tersebut dibagikan Observatorium Timau melalui akun Instagram resminya.

Dalam unggahannya, observatorium memperlihatkan timelapse perputaran langit malam yang direkam langsung dari kawasan observatorium. Langit Timau yang minim polusi cahaya membuat hamparan bintang terlihat jelas.

Di antara pemandangan tersebut, kamera Allsky berhasil merekam kilatan salah satu meteor Perseid. Observatorium Timau menyebut fenomena tersebut menjadi salah satu bukti tangkapan meteor Perseid yang melintas di langit kawasan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

[Gambas:Instagram]

ADVERTISEMENT

Asal Usul Perseid

Nama Perseid berasal dari rasi bintang Perseus. Dalam perspektif pengamat di Bumi, meteor-meteor dalam hujan meteor ini tampak seolah-olah memancar dari satu titik di arah rasi Perseus. Titik tersebut disebut radiant.

Meski begitu, meteor sebenarnya tidak berasal dari rasi Perseus. Radiant hanya menunjukkan arah asal meteor jika lintasannya ditarik ke belakang. Karena efek perspektif tersebut, meteor Perseid dapat terlihat melesat di berbagai bagian langit.

Perseid terjadi ketika Bumi melewati jalur material yang ditinggalkan Komet 109P/Swift-Tuttle. Komet tersebut meninggalkan debu dan partikel kecil di sepanjang orbitnya. Ketika Bumi melintasi wilayah tersebut, partikel-partikel tadi memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi. Interaksi dengan atmosfer membuat partikel memanas dan menghasilkan kilatan cahaya yang terlihat sebagai meteor.

Langit Timau Jadi Latar Ideal

Timelapse yang dibagikan Observatorium Timau juga memperlihatkan perputaran langit malam dari kawasan observatorium. Salah satu keunggulan lokasi tersebut adalah kondisi langit yang relatif bebas dari polusi cahaya. Semakin sedikit cahaya buatan, semakin banyak objek langit redup yang dapat terlihat dan direkam.

Kondisi langit gelap juga penting dalam pengamatan hujan meteor. Meteor yang cahayanya lebih redup dapat dengan mudah kalah oleh cahaya lampu perkotaan. Karena itu, kawasan dengan polusi cahaya rendah seperti Timau menjadi lokasi yang ideal untuk mendokumentasikan fenomena langit.

Kemunculan Perseid

Hujan meteor Perseid bukan fenomena yang hanya terjadi pada 2026. Perseid merupakan hujan meteor tahunan yang muncul ketika Bumi kembali melewati jalur material Komet Swift-Tuttle. Karena orbit Bumi mengelilingi Matahari berlangsung secara periodik, pertemuan dengan jalur debu komet tersebut juga terjadi setiap tahun.

Itulah sebabnya Perseid biasanya dapat diamati sekitar Juli hingga Agustus, dengan periode puncak pada Agustus. Tahun ini, pengamatan Perseid juga mendapat keuntungan dari kondisi Bulan Baru. Minimnya cahaya Bulan membuat langit malam lebih gelap sehingga meteor lebih mudah terlihat, terutama dari lokasi yang jauh dari polusi cahaya.

Kilatan yang direkam Observatorium Timau menjadi salah satu dokumentasi fenomena tersebut dari Indonesia. Bagi astronom, satu garis cahaya yang melintas cepat di langit bukan sekadar pemandangan indah. Kilatan tersebut merupakan jejak material dari komet yang telah melakukan perjalanan mengelilingi Matahari sebelum akhirnya bertemu dengan atmosfer Bumi.



(rns/fay)






Hide Ads