Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Tak Takut AI, Bos Aplikasi 3D dari Indonesia Malah Punya Agen Pintar

Tak Takut AI, Bos Aplikasi 3D dari Indonesia Malah Punya Agen Pintar


Adi Fida Rahman - detikInet

Hasbi Asyadiq, Co-Founder dan CEO Assemblr Group
Tak takut AI, bos aplikasi 3D dari Indonesia ini malah punya agen pintar (Foto: Adi FR/detikINET)
Jakarta -

Kehadiran artificial intelligence (AI) memunculkan pro dan kontra, termasuk kekhawatiran teknologi tersebut bakal menggantikan pekerjaan manusia. Co-Founder dan CEO Assemblr Group Hasbi Asyadiq memilih melihatnya dari sisi berbeda.

Menurutnya perusahaan teknologi harus beradaptasi. Di Assemblr misalnya, mereka sudah memanfaatkan AI untuk operasional internal.

Pun begitu Hasbi menyadari bawah setiap kemajuan teknologi hampir selalu melahirkan dua kubu. Namun, skala perubahan yang dibawa AI membuat perdebatan kali ini terasa jauh lebih besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Di setiap kemajuan teknologi pasti ada pro dan kontra. Dalam skala AI, pro dan kontranya juga makin kencang. Ada yang sangat mendukung, ada juga yang menentang, sangat terpolarisasi karena memang magnitudenya sebesar itu," kata Hasbi saat ditemui di Jakarta.

Menurutnya, perubahan seperti ini bukan sesuatu yang baru dalam sejarah perkembangan teknologi. Karena itu, perusahaan bisa memilih bertahan dengan cara lama atau beradaptasi dengan perubahan.

"Ini sebenarnya pola yang terus terjadi di dunia. Selalu ada revolusi yang terjadi, di mana zaman berubah. Menurut saya, kita tidak bisa terus bertahan dengan pipeline atau cara-cara lama, kita harus beradaptasi," ujarnya.

"Bagi kami justru ini opportunity karena nature kami adalah perusahaan teknologi," sambungnya.

Hasbi Asyadiq, Co-Founder dan CEO Assemblr GroupHasbi Asyadiq, Co-Founder dan CEO Assemblr Group Foto: Adi FR/detikINET

Assemblr Punya Agen AI yang Kerja 24 Jam

Adaptasi AI di Assemblr tidak hanya diwujudkan dalam fitur yang ditawarkan kepada pengguna. Teknologi tersebut juga digunakan untuk membantu pekerjaan internal perusahaan.

Hasbi mengungkap Assemblr memiliki agen AI yang terhubung dengan Slack. Mereka memberikan nama unik untuk agen tersebut, yakni 'Perang Ajaib'.

Agen pintar tersebut bertugas menganalisis perjalanan pengguna, termasuk pengguna yang akhirnya memutuskan membayar layanan Assemblr.

"Kami punya yang namanya 'Perang Ajaib'. Ini seperti agent yang kami pasang di Slack. Kerjaannya menganalisis user yang bayar. Misalnya ada yang bayar dari Surabaya, dia bayar jam segini dan lain-lain," jelas Hasbi.

Analisisnya tidak berhenti pada transaksi. AI tersebut juga menelusuri apa yang dilakukan pengguna sebelum akhirnya melakukan konversi menjadi pelanggan berbayar.

"Sebelum dia convert menjadi bayar, dia melakukan apa, pergi ke mana, baca apa, membuka fitur apa, sampai akhirnya conversion. Berapa menit sampai conversion, transaksinya berapa, setelah itu spending-nya berapa, apakah dia kembali atau tidak," ungkapnya.

Informasi tersebut kemudian disusun menjadi laporan yang dapat digunakan tim Assemblr untuk memahami perilaku penggunanya.

"'Perang Ajaib' ini report 24 jam. Teknologi-teknologi seperti ini selalu kami ikuti di cutting edge-nya," kata Hasbi.

Hasbi Asyadiq, Co-Founder dan CEO Assemblr GroupHasbi Asyadiq, Co-Founder dan CEO Assemblr Group Foto: Adi FR/detikINET

AI Juga Masuk ke Assemblr

Pemanfaatan AI juga mulai masuk ke produk Assemblr. Salah satu kemampuan yang dipaparkan Hasbi adalah mengubah gambar menjadi model 3D.

Pengguna cukup mengambil foto, kemudian sistem dapat menginterpretasikan gambar tersebut menjadi model tiga dimensi. Setelah itu, pengguna dapat menambahkan anotasi, teks hingga interaksi pada objek.

"Kita bisa mengambil gambar, kemudian langsung diinterpretasikan menjadi model 3D. Dari situ bisa ditambahkan anotasi, teks, atau interaksi. Misalnya ketika diklik, dia melakukan apa," jelas Hasbi.

Kemampuan AI tersebut rencananya terus dikembangkan. Hasbi menyebut beberapa area yang dapat menjadi pintu masuk berikutnya antara lain menghasilkan suara, text-to-voice hingga membuat deskripsi menggunakan AI.

Langkah itu sejalan dengan misi Assemblr menyederhanakan teknologi 3D. Platform ini dirancang agar orang yang tidak memiliki pengetahuan teknis sekalipun dapat membuat konten 3D dan AR interaktif.

Hasbi menggambarkannya secara sederhana sebagai "Canva untuk 3D dan AR". Pengguna dapat membuat simulasi pembelajaran, simulasi produk, kampanye digital hingga mini game menggunakan platform tersebut.

Jalankan AI Langsung di Mac

Hasbi juga memanfaatkan kemampuan komputasi perangkat Apple untuk bereksperimen dengan AI. Ia mengaku menjalankan sejumlah model AI secara lokal langsung dari laptopnya.

Perangkat yang digunakannya memiliki spesifikasi kelas atas, termasuk RAM 128 GB, storage 8 TB dan CPU hingga 40-core sebagaimana ia paparkan dalam sesi tersebut.

"Laptop saya RAM-nya 128 GB. Yang tadi dipresentasikan itu mentok atas, rata kanan. 40-core, storage 8 TB, kemudian RAM 128 GB, yang cukup tidak biasa untuk sebuah laptop. Sangat powerful," ujar Hasbi.

Dengan kemampuan tersebut, Hasbi mengatakan model AI bisa dijalankan secara lokal tanpa harus mengirim seluruh data ke layanan cloud.

"Saya punya model AI yang berjalan secara lokal di laptop. Untuk confidential data, kita bisa menjalankannya secara lokal. Artinya sangat secure karena datanya tetap di perangkat sendiri," jelasnya.

Dalam pemaparannya, Hasbi juga menyebut bereksperimen dengan berbagai model, termasuk GLM. Ia menilai kemampuan chip Apple membuat pemrosesan model secara lokal semakin memungkinkan.

"The latest chip dari Apple itu super powerful. Saya mencoba banyak model, GLM dan lain-lain," katanya.

Hasbi Asyadiq, Co-Founder dan CEO Assemblr Group Assemblr sudah memiliki satu juta pengguna aktif. Foto: Adi FR/detikINET

Terinspirasi Steve Jobs

Ekosistem Apple sudah menjadi bagian dari perjalanan Assemblr sejak awal. Pada 2017, Assemblr mengembangkan prototype agar model 3D kompleks dapat berjalan ringan di perangkat mobile, khususnya iPad, dengan memanfaatkan ARKit.

Kini perangkat Apple digunakan dalam workflow tim, mulai dari sketching, 3D modeling, animation, publishing hingga aplikasi di-deploy ke App Store.

"Yang paling terasa itu streamline. Kami mulai dari sketching, 3D modeling, animation, sampai publishing dan deploying ke App Store. Semuanya sangat mulus," kata Hasbi.

Selain performa, Hasbi menilai reliability menjadi alasan penting menggunakan ekosistem Apple. Integrasi hardware dan software membuat tim bisa lebih fokus bekerja tanpa banyak direpotkan masalah teknis.

"Mac dari dulu terkenal dengan reliability-nya. Itu yang paling penting karena masalah seperti file corrupt, virus atau hilang bisa menjadi masalah besar," ujarnya.

Pendekatan tersebut turut memengaruhi cara Hasbi membangun Assemblr. Salah satu inspirasinya adalah Steve Jobs yang menurutnya mampu menyederhanakan teknologi rumit agar mudah digunakan banyak orang.

"Salah satu yang sangat memengaruhi saya di awal adalah Steve Jobs. Ketika kita membangun sesuatu, itu harus berguna untuk banyak orang, seamless, dan mudah digunakan," kata Hasbi.

Filosofi serupa diterapkannya di Assemblr. "Ini bukan tentang seberapa high-tech teknologinya. Yang paling penting adalah pengguna," pungkasnya.

(afr/fay)






Hide Ads
LIVE