Game Lokal Terbentur Lisensi
- detikInet
Jakarta -
Anda yang gemar bermain game tentu tak asing lagi dengan nama-nama pengembang game mancanegara seperti Nintendo, Sega, Konami, Square-Enix, atau Roxstar Games. Namun, pernahkah Anda mendengar nama-nama seperti Max Studio, Menara Games, Sangkuriang, atau Bajingloncat? Mereka adalah pengembang game dalam negeri yang ternyata cukup aktif membuat game di Indonesia. Lewat acara Indonesian Game Developers Gathering yang digelar di Club Rasuna, Minggu (22/4/2007), mereka berkumpul dan saling berbagi pengalaman. Melalui acara yang bertajuk "Building Indonesian Game Developers Community" tersebut, pengembang game lokal yang hadir berkesempatan untuk berbagi pengalaman dan mendemonstrasikan hasil karya mereka. Hadir sebagai pembicara utama dalam acara tersebut, Risman Adnan, Independence Software Vendor Leader dari Microsoft Indonesia. Lewat presentasinya, ia memaparkan sejumlah poin penting dalam membangun komunitas pengembang game lokal yang dapat bersaing dengan pengembang game mancanegara."Jika kita ingin membuat game, yang harus kita miliki adalah imajinasi, skill yang memadai, serta kekuatan mental untuk belajar lebih keras lagi. Selain itu, partnership juga harus dijalin, karena kita tak akan bisa tumbuh besar tanpa adanya kerjasama," paparnya.Dalam acara tersebut, beberapa pengembang game mendemonstrasikan hasil karya mereka. Kebanyakan masih berbentuk prototipe atau setengah jadi, namun ada juga yang telah rampung dan berhasil memasarkan game mereka hingga ke luar negeri.Biasanya mereka memasarkan game-gamenya secara online, atau langsung menawarkannya ke konsumen, dalam hal ini perusahaan yang berminat memasarkan game tersebut. Jadi tidak dijual bebas di toko-toko game, melainkan didistribusikan dengan cara download via internet atau menyerahkannya langsung ke konsumen.KendalaDi sela-sela acara, penulis sempat berbincang-bincang dengan beberapa perwakilan dari pengembang game di Indonesia. Mereka membagikan pengalamannya masing-masing, termasuk kendala yang dihadapi ketika membuat dan mengembangkan game di Indonesia."Masalah utama yang dihadapi pengembang game di Indonesia adalah kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang eksistensi mereka," jelas Kukuh T. Wicaksono, panitia acara yang juga merupakan programer Max Studio. Menurut dia, kebanyakan gamer Indonesia lebih terkonsentrasi memainkan game di konsol, sementara aplikasi pembuat game yang ada lebih banyak tersedia untuk platform PC. Jadi, jangan heran kalau banyak penikmat game di Indonesia yang tak mengetahui keberadaan game buatan lokal, karena game-game tersebut biasanya didistribusikan lewat internet, sementara tak semua gamer Indonesia dapat mengakses internet dan melakukan transaksi secara online. Selain itu, penikmat game di Indonesia biasanya lebih memilih untuk memainkan game-game buatan luar negeri yang menurut mereka lebih berkualitas. "Kadang saya suka nyerah duluan, soalnya belum apa-apa game kita sudah dibilang jelek, padahal coba memainkannya saja belum," ujar Ridwan, seorang peserta yang mencoba membuat game sendiri.Kesulitan lain yang cukup terasa adalah tingginya biaya untuk melisensi SDK (Software Development Kit) dan Game Engine, yaitu piranti lunak yang digunakan untuk membuat game. Di dalamnya telah tersedia modul-modul siap pakai -- seperti efek grafis, tata suara, dan system resources -- yang dapat diolah sesuai dengan bahasa pemrograman yang dikuasai pengguna. Untuk diketahui saja, harga lisensi sebuah engine komersial dapat menembus angka US$ 1000, dan bila engine tersebut tidak menyertakan compiler (aplikasi untuk menjadikan database game siap saji), maka dana yang harus dikeluarkan bisa membengkak hingga dua sampai tiga kali lipat.Beberapa contoh game engine komersial yang sering digunakan adalah TrueVision 3D, A6, dan Torque, yang semuanya bukan produk dalam negeri. Meskipun sudah ada beberapa pengembang yang coba membuat game tanpa menggunakan engine komersial, tawaran akan kemudahan dan performa yang lebih baik masih sanggup menggoda mereka untuk menguras kocek guna melisensi engine-engine seperti yang telah disebutkan di atas."Dana yang dikeluarkan untuk melisensi engine dan compiler-nya saja sudah mencaplok sebagian besar modal kami, tapi ya nggak ada pilihan lain karena engine komersial menawarkan fitur yang kami butuhkan," ungkap Yudi yang bekerja sebagai Sound Engineer di Sangkuriang Studio. Kesimpulan: Game Indonesia Butuh PerhatianSetelah mengikuti acara ini, penulis berasumsi bahwa perkembangan dunia game di Indonesia perlu mendapat perhatian yang serius dari penikmat game. Karya-karya yang dipampang dalam Indonesian Game Developers Gathering setidaknya memberi sedikit bukti bahwa sebenarnya Indonesia pun mampu bersaing dalam pasar game internasional. Kita tunggu saja jawabannya di Indonesian Game Developers Gathering mendatang!Keterangan Foto: Salah satu game yang didemonstrasikan (atas) dan suasana gathering (bawah). Dokumentasi Eko Ramaditya. Penulis, Eko Ramaditya Adikara (Rama), adalah seorang tuna-netra yang gemar menulis menggunakan komputer. Penulis tergabung dalam Yayasan Mitra Netra (MitraNetra.or.id). Blog pribadinya dapat dibaca di alamat www.ramaditya.com.
(wsh/wsh)