Kisah Samsung Balikkan Keadaan Setelah Dicap Murahan

ADVERTISEMENT

Kisah Samsung Balikkan Keadaan Setelah Dicap Murahan

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 30 Jun 2022 11:40 WIB
Setelah diumumkan beberapa waktu lalu, ponsel flagsip Samsung Galaxy S6 dan Galaxy S6 Edge akhirnya resmi dijual di Indonesia. Samsung pertama kali menggelar penjualan pertama kedua ponsel jagoannya itu di mal Grand Indonesia, Jakarta. Hasan Al Habshy/detikcom.
Ponsel Samsung. Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta -

Samsung adalah salah satu cerita amat sukses perusahaan asal Korea Selatan. Namun dahulu, mereka sempat dicap sebagai perusahaan elektronik murahan.

Para pimpinan Samsung memang bekerja keras menaikkan citra perusahaan dan memastikan untuk selalu memproduksi produk bagus. Etos seperti itu ditanamkan oleh sosok bernama Lee Kun Hee yang saat ini sudah mendiang.

Ya, Lee boleh dibilang sebagai bapak kejayaan Samsung. Anak dari pendiri Samsung ini meletakkan pondasi kejayaan Samsung setelah sempat dianggap remeh oleh para rival.

Lee Kun Hee adalah putra ketiga dari pendiri Samsung, Lee Byung Chull. Dia lahir tanggal 9 januari 1942, pada masa perang dunia sedang berkecamuk.

Dikenal sebagai sosok pintar, Lee mendapatkan gelar sarjana ekonomi dari Waseda University di Jepang dan kemudian meraih gelar MBA dari George Washington University di Amerika Serikat. Dia mahir beberapa bahasa, yaitu bahasa Jepang, Inggris dan tentu saja bahasa Korea.

Menjadi putra pendiri Samsung Group, Lee pun sangat paham dengan seluk beluk perusahaan. Dan dengan ambisi besarnya, dia berencana untuk membuat Samsung menjadi perusahaan Korea Selatan yang berbicara banyak secara global.

Gabung ke Samsung

Lee Kun Hee pun mulai berkiprah di perusahaan milik ayahnya. Dia bergabung ke Samsung Group pada tahun 1968.

Samsung memang sebuah konglomerasi besar yang dikendalikan oleh keluarga, sering disebut sebagai chaebol. Jabatan tinggi di perusahaan pun biasanya diwariskan turun temurun.

Pada 1 Desember 1987, Lee diangkat sebagai chairman Samsung, dua minggu setelah sang ayah meninggal dunia.

Pada saat itu, Samsung sudah memimpin dalam beberapa area di pasar dalam negeri. Namun ambisi Lee adalah membuat Samsung berjaya juga di arena internasional.

Lee menilai Samsung tidak fokus dalam berbisnis dan hanya memproduksi barang kualitas rendah dengan kuantitas tinggi sehingga kalah gengsi dari merek lain. Dia pun ingin mengubah situasi tersebut.

Lee sangat optimistis bahwa Samsung berpeluang menyaingi perusahaan elektronik Jepang yang saat itu sudah mendunia. Yaitu dengan praktik bisnis yang lebih efisien serta produk berkualitas tinggi.

Dari tahun 1987 saat awal Lee Kun Hee memimpin sampai tahun 1993, pendapatan Samsung sudah tumbuh dua kali lipat. Tapi dia sama sekali belum merasa puas. Dia ingin Samsung diakui sebagai perusahaan kelas dunia dengan deadline tahun 2000.

Halaman selanjutnya, kecewa disepelekan>>>

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT