Huawei Rilis HarmonyOS, Apa Bisa Tantang Android?

Huawei Rilis HarmonyOS, Apa Bisa Tantang Android?

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 03 Jun 2021 12:18 WIB
Jakarta -

Setelah tidak boleh memakai versi penuh sistem operasi Android karena sanksi Amerika Serikat, Huawei benar-benar banting setir memakai OS sendiri, HarmonyOS. Mampukah OS ini menjadi lawan yang diperhitungkan bagi Android di masa depan?

Mengingat Huawei adalah vendor ponsel raksasa, Harmony bakal langsung dipakai di begitu banyak perangkatnya. Pada akhir tahun ini, kabarnya Huawei menargetkan akan ada 300 juta perangkatnya yang sudah terpasang HarmonyOS.

Jadi bisa dikatakan akan terjadi migrasi yang masif, dengan sekitar 100 jenis ponsel dan tablet. Awalnya migrasi akan dilakukan di China lantaran penduduk di sana memang sudah terbiasa tidak memakai versi penuh Android sehingga lebih mudah dilakukan.

Sukses HarmonyOS bukan hal yang mudah dicapai. Android dan iOS begitu perkasa dan di masa silam, penantang seperti Windows Phone sampai Samsung Bada pada akhirnya tidak berkutik.

Demi keberhasilan HarmonyOS, Huawei gencar menarik developer agar berlomba mengembangkan aplikasinya. Koleksi aplikasi yang lengkap dan banyak memang penting di mata konsumen.

Huawei juga memastikan pengguna dapat menginstal aplikasi Android di HarmonyOS 2.0. Aplikasi tersebut dapat diunduh di AppGallery atau lewat Petal.

Hingga saat ini, lebih dari 500.000 pengembang sedang membangun aplikasi berbasis HarmonyOS. Tidak jelas apakah Google, Facebook, dan aplikasi utama lainnya di Barat bekerja pada versi HarmonyOS. "Satu-satunya hal yang kurang dari HarmonyOS adalah developer barat yang besar," cetus Neil Shah, periset di Counterpoint Research.

Shah memperkirakan HarmonyOS berpotensi sukses di Afrika dan Eropa, di mana Huawei sangat populer. Namun demikian, pasar seperti Amerika Serikat tentu susah ditembus, demikian pula negara lain yang lebih memilih Android saja.

"Huawei menghadapi tantangan besar di luar China. Ada kepercayaan konsumen yang hilang sebagai akibat dari sanksi AS yang akan menjadi tantangan untuk ditundukkan," kata Ben Wood dari CCS Insight yang dikutip detikINET dari CNBC, Kamis (3/6/2021).

(fyk/fay)