Mereka Masih Gagal Move On dari Ponsel BlackBerry

Mereka Masih Gagal Move On dari Ponsel BlackBerry

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 10 Sep 2020 16:50 WIB
Seorang model menunjukkan Blackberry Classic saat peluncuran di Jakarta, Rabu (25/3/2015). Blackberry ini menggunakan jaringan 4G LTE dijual dengan harga Rp 5.599.000.
BlackBerry Classic (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Dulu banyak yang gemar memakai ponsel BlackBerry. Jangan salah, sampai sekarang pun masih ada yang cinta pada ponsel tersebut dan tentunya, kabar BlackBerry akan kembali dipasarkan merupakan berita gembira bagi mereka.

Sampai sekitar tahun 2010-an, BlackBerry masih di puncak sebelum kemudian tenggelam dibabat iPhone dan Android. Walau sudah tak begitu laku, TCL yang dipercaya memegang lisensinya masih menjual ponsel BlackBerry sampai kemudian setop pada tahun silam.

Untungnya, masih ada perusahaan yang berminat membeli lisensi BlackBerry, namanya Onward Mobility yang berbasis di Texas. Mereka janji merilis BlackBerry dengan ciri khas keyboard fisik serta dirancang aman dan punya 5G. Sontak, para loyalis BlackBerry girang.

"Saya ingin lebih banyak informasi dirilis soal BlackBerry baru. Saya benar-benar ingin tahu, saya pakai 10 tahun. Saya kira mereka sudah tamat. (Kabar) ini adalah info terbaik di 2020 bagi saya," tulis seorang fans BlackBerry di forum Reddit.

Forum BlacBerry di Reddit rupanya masih ramai dengan 12 ribu anggota, malah ada sebagian mantan pegawai BlackBerry di sana. Perusahaan BlackBerry sendiri saat ini sudah tidak membuat ponsel, mereka fokus pada solusi keamanan perusahaan.

"Saya memakai BlackBerry lebih lama dari teman saya. Saya suka BB10 dan Passport (ponsel BlackBerry yang rilis 2014-red). Andai masih di-support, saya akan mempertahankannya. Saya hanya berhenti memakai ketika pembuat aplikasi berbondong pergi," cetus Keyth David, pegawai Discovery Channel yang dikutip detikINET dari Wired.

Ponsel pertamanya adalah BlackBerry Pearl yang diluncurkan pada 2006. Ia terutama suka pada keyboard fisik serta kontroller khasnya. Sampai saat ini, David belum menemukan keasyikan menggunakan ponsel layar sentuh.

Sosok lain yang gemar BlackBerry adalah Lara Mingay, pendiri perusahaan LM Communications. Ia baru mencoba memakai iPhone Februari tahun ini setelah sebelumnya selalu memakai BlackBerry.

"Saya punya semuanya dan memakainya sejak awal," katanya. Ia berhenti memakai BlackBerry setelah model Classic yang ia beli rusak sehingga beralih ke iPhone. Keyboard fisik jadi favoritnya lantaran nyaman buat mengetik.

Di Indonesia, BlackBerry sempat jadi idaman sehingga mungkin saja, sampai saat ini juga masih ada yang sebenarnya lebih senang memakai BlackBerry. Sayangnya belum ada kejelasan apakah Blackberry versi baru nanti menyapa pasar Indonesia. Penjualan awalnya di Amerika Utara dan Eropa.



Simak Video "CEO BlackBerry Tak Izinkan Karyawannya Beli Ponsel Layar Lipat"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)