Ponsel Kencang Tak Sekadar Peran Chipset

Ponsel Kencang Tak Sekadar Peran Chipset

Adi Fida Rahman - detikInet
Sabtu, 29 Agu 2020 11:02 WIB
Galaxy Note 20
Duo Galaxy Note 20. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta -

Sudah sejak lama Samsung mentenagai ponsel premium flagshipnya yang dirilis di Indonesia dengan chipset Exynos. Selalu saja mereka ditanya kenapa tidak membawa varian Snapdragon seperti di Amerika dan China saat ponsel barunya diluncurkan di Tanah Air.

Pertanyaan itu makin getol disodorkan kali ini lantaran Galaxy Note 20 series dirilis bareng dengan Galaxy Tab S7 series. Kedua jenis perangkat mempunyai fitur yang mirip, hanya beda di ukuran layar dan chipset yang mentenagainya.

Galaxy Note 20 series diotaki Exynos 990, sementara Galaxy Tab S7 series dimodali chipset tergahar Qualcomm yang mana jadi idaman pencinta gadget di sini. "Kenapa Galaxy Note 20 series kok tidak sekalian ditenagai Snapdragon 865+ sekalian," demikian pertanyaan yang kemudian muncul.

Samsung memang tidak pernah benar-benar mengungkap alasannya. Tapi bisa ditebak bisnis menjadi latar belakangnya. Terlepas dari itu, sejatinya kemampuan Exynos 990 tidak lantas dipandang sebelah mata.

Peningkatan performa yang dibawa chipset ini mencapai 20% dari pendahulunya. Bagi yang sebelumnya menggunakan Galaxy Note 10 series tentu akan merasakan peningkatan tersebut.

Tapi bukan faktor Exynos 990 saja yang bikin Galaxy Note 20 series punya performa kencang untuk beragam tugas. Ada peran RAM dan memori internal yang turut mempengaruhi.

Galaxy Note 20 UltraGalaxy Note 20 Ultra Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

"Seberapa powerful smartphone itu basicnya memang chipset, kedua RAM mesti cepat, ketiga storage, jadi ketiga itu. Banyak di pasaran saat ini prosesornya sudah bagus, RAM dan storagenya bisa saja. Ini yang jadinya tidak bisa dibandingkan," terang Taufiq Furqan, Product Marketing Manager Samsung Indonesia.

"Jadi tidak semua ponsel dengan Snapdragon 865 kenceng, dan nggak semua yang pakai Exynos lambat. Makanya kadang smartphone dengan prosesor sama harganya mahal dan ada yang jauh lebih murah, karena ada perbedaan di jenis RAM dan storagenya," sambungnya.

Taufiq mengaku sempat melakukan pengujian RAM LPDDR5 di Galaxy Note 20 Ultra dengan LPDDR4x di Galaxy Note 10+. Kendati berukuran 8 GB, performanya 150% kali lebih cepat dari 12 GB. Daya penggunaan RAM pun terpantau lebih kecil.

Storage Galaxy Note 20 Ultra pun dinilai lebih unggul. Berkat penggunaan UFS 3.1, kinerjanya 130% lebih cepat dari Galaxy Note 10+.

"Dari dua hal ini makanya untuk dari segi performance Galaxy Note 20 Ultra bagus. Karena untuk mendukung powerful phone, storage dan RAM harus kencang," kata Taufiq.

Soal fenomena skor benchmark, pria berkacamata ini berpendapat tiap orang mungkin akan mendapatkan hasil berbeda. Namun dari sisi konsumen, pengalaman yang dirasakan akan sama.

"(Meski hasil benchmark beda) bukan berarti wireless DeX di Exynos jadi lebih lambat dibandingkan yang pakai Snapdragon," pungkas Taufiq.

(afr/afr)