Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
70% Anak-Anak Main Game Dewasa

70% Anak-Anak Main Game Dewasa


- detikInet

Jakarta - Para orangtua dan penjual game seharusnya mewaspadai kebiasaan anak-anak dalam bermain game. Menurut survei, tujuh dari 10 anak ternyata gemar bermain game dengan rating M (mature/dewasa), yang memiliki konten kekerasan dan seks. Game seperti itu biasanya ditujukan untuk pemain game berusia 17 tahun ke atas. National Institute on Media and the Family, organisasi yang meneliti dampak media elektronik bagi keluarga dan anak, mengeluarkan laporan tahunan kesepuluh bertajuk "MediaWise Video Game Report". Laporan tersebut berisi 12 game yang seharusnya tidak dimainkan oleh anak-anak dan remaja di bawah 17 tahun. Humaneventsonline.com yang dikutip detikinet Rabu (30/11/2005) melansir, kedua belas game tersebut adalah:1. Far Cry2. F.E.A.R.3. The Warriors4. Stubbs the Zombie in Rebel Without a Pulse5. True Crime: New York City6. Blitz: The League7. Grand Theft Auto: Liberty City Stories8. God of War9. Doom 3: Resurrection of Evil10. Urban Reign11. Conker: Live and Reloaded12. Resident Evil 4Sebelas dari 12 game tersebut memiliki rating M, sedang game "Urban Reign", memiliki rating T (teen/remaja). Game dengan rating M mesti dihindari anak di bawah 17 tahun, karena menurut Entertainment Software Rating Board, game ini memiliki unsur kekerasan, kata-kata kasar dan adegan seks."Game semacam ini dapat merusak nilai dan norma serta kedisiplinan masyarakat kita. Apa yang sudah kita tanamkan saat ini untuk menciptakan masyarakat yang baik, terutama untuk anak-anak, menjadi rusak karena game seperti ini," ujar Senator Joe Lieberman pengkritik industri hiburan yang mengandung konten kekerasan dan seksualitas untuk anak-anak.Meskipun terdapat rating khusus untuk orang dewasa yang disebut Adult Only (AO), tetapi rating ini sangat jarang digunakan. Bahkan dari 10.000 game hanya 18 yang menggunakan rating ini.David Walsh, Presiden National Institute on Media and the Family menyalahkan industri video game tentang hal ini. Walsh dan Lieberman menginginkan agar sistem rating yang ada dirombak dan diganti dengan yang baru. Walsh menilai, toko penjual game kurang keras mendisiplinkan konsumen anak-anak ketika mereka membeli game dengan rating M. Dari penelitian yang dilakukan kelompoknya ditemukan, 42 persen transaksi pembelian game dewasa yang dilakukan anak laki-laki usia 9 tahun, diloloskan alias tidak dicegah. Sedangkan pada anak perempuan, transaksi game rating M yang diloloskan sebanyak 46 persen.Orang tua juga sering lalai memperhatikan rating game yang dibeli anak-anak. Dari hasil survei diketahui, 26 persen responden menyatakan, orang tua melarang anaknya membeli game, jika ratingnya tidak sesuai. Sementara lebih dari setengah anak justru membeli game rating M atas sepengetahuan orang tuanya."Jika kita tetap diam saja, masyarakat kita akan terdiri dari kaum muda yang kecanduan video game, mengabaikan kesehatan, keluarga dan agama," kata Walsh. (ketepi/)







Hide Ads
LIVE