Minggu, 22 Des 2019 14:56 WIB

Teknologi Baterai Baru IBM: Pakai Air Laut

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: IBMSistem Diferensial Massa Elektrokimia Diferensial (DEMS) di IBM Research Battery Lab, yang mengukur jumlah gas yang telah berevolusi dari sel baterai selama siklus pengisian dan pemakaian.
Jakarta - IBM mengungkap hasil penelitian terbarunya, yaitu baterai baru yang bahan pembuatnya berasal dari olahan air laut.

Teknologi baru ini sangat berseberangan dengan teknologi baterai saat ini, yang menggunakan cobalt sebagai bahan utama. Hal tersebut membuat permintaan cobalt meningkat karena meningkatkan pasar mobil elektrik.


Tak cuma menggunakan bahan yang ramah lingkungan, teknologi ini juga diklaim IBM bisa mengalahkan performa lithium ion dalam aspek biaya pembuatan, pengisian daya, dan efisiensi energi, demikian dikutip detikINET dari Tech Radar, Minggu (22/12/2019).

Dalam laporannya, IBM Research menyebutkan kepadatan energi di baterai barunya ini mencapai 10.000 W/L, jauh lebih tinggi dari lithium ion. Pengisian ulangnya pun hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk mencapai kondisi 80%.

Dalam penelitiannya ini IBM bekerja sama dengan lembaga riset milik Mercedes Benz, penyuplai elektrolit baterai Central Glass, dan pembuat baterai Sidus untuk membantu pengembangan baterai ini secara komersial.

Teknologi Baterai Baru IBM: Pakai Air LautPeneliti IBM bekerja di IBM Research Battery Lab untuk menggabungkan dan menguji bahan dan formulasi unik untuk teknologi baterai yang lebih berkelanjutan. Foto: IBM
Namun yang perlu diingat adalah prototipe pertama baterai anyar ini masih membutuhkan waktu sedikitnya satu tahun, dan menurut Jeff Welser, VP IBM Research, mereka juga belum tentu membuat produk komerial menggunakan desain ini.

"Banyak material di baterai, termasuk nikel dan cobalt, mempunyai dampak buruk bagi lingkungan dan manusia. Cobalt contohnya, yang banyak tersedia di Afrika Tengah, tengah bermasalah karena praktik penambangan yang tak bertanggung jawab dan terlalu eksploitatif," ujar Young-hye Na, peneliti di IBM.


"Dengan menggunakan tiga materai baru ini, yang sebelumnya belum pernah dipakai di baterai, tim kami di IBM Research sudah menemukan material baru untuk baterai yang tak menggunakan logam berat ataupun bahan lain yang bermasalah," tambahnya.

Saat ini produsen baterai sendiri memang tengah berusaha mengurangi jumlah cobalt pada baterai lithium ion buatannya. Karena dengan permintaan baterai yang terus meningkat drastis, ditakutkan bahan tambang itu akan habis dan menjadi langka.

Simak Video "Skuter Listrik Meledak Saat Sedang Dicas!"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/afr)