Sabtu, 16 Nov 2019 16:00 WIB

Laporan dari Singapura

Huawei Jujur Jualan Mate 30 Pro

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: detikINET/Anggoro Suryo Jati Foto: detikINET/Anggoro Suryo Jati
Singapura - Ketiadaan dukungan layanan Google di seri Mate 30 dinilai banyak orang akan menurunkan minat konsumen membeli smartphone teranyar Huawei tersebut. Tapi Huawei tak khawatir. Mereka punya jurus tersendiri menghadapinya.

Deputy Country Director Huawei Consumer Business Group Indonesia Lo Khing Seng menyebutkan, Huawei sejak awal sudah terbuka kepada konsumen yang akan membeli Huawei Mate 30 Pro.

"Sejak awal kami jujur dan terbuka pada konsumen. Kami edukasi mereka yang pre order itu, ada semacam brief bahwa kondisinya seperti ini," kata Khing Seng berbincang di sela acara Huawei Developer Day di Singapura.



Dalam upayanya tersebut, sebelum melempar seri Mate 30 Pro ke pasar, Huawei terlebih dahulu 'mengecek ombak' dengan membuka program bertajuk Registration of Interest (ROI) yang dimulai 2 November hingga 14 November.

Deputy Country Director Huawei Consumer Business Group Indonesia Lo Khing Seng Deputy Country Director Huawei Consumer Business Group Indonesia Lo Khing Seng. Foto: Rachmatunnisa/detikINET



Dari sini, Huawei menakar respons konsumen terhadap seri Mate 30 yang akan dirilis, terutama karena ini adalah smartphone pertama Huawei menggunakan Huawei AppGallery sebagai pengganti Google PlayStore.

"Kita nggak mau konsumen kecewa, tahunya setelah mereka beli, bingung. Kami katakan, kami jujur apa adanya, bahwa ada keterbatasan ini. Tapi kami juga bekali mereka, edukasi mereka bagaimana pakai device-nya dan memanfaatkan Huawei Mobile Services," urai Khing Seng.

Respons konsumen pada ROI yang digelar Huawei, dinilai Khing Seng sangat menggembirakan. Antusiasme ini setidaknya terlihat dari jumlah pendaftar program ROI yakni 6.500 orang.

Untuk diketahui, Huawei merilis Mate 30 Pro tanpa kehadiran Google Mobile Services (GMS) dan menggantinya dengan Huawei Mobile Services (HMS).

Hal ini membuat ponsel jagoan Huawei itu tak bisa menggunakan Play Store serta aplikasi yang ada di dalamnya. Tak cuma itu, sekalipun pengguna bisa menginstal aplikasi dari pihak lain, belum tentu juga aplikasinya bisa berfungsi karena ketiadaan sejumlah fungsi inti dari GMS.

Untuk itulah Huawei membuat HMS, yang fungsinya kurang lebih seperti GMS. Namun dampaknya adalah mereka harus menggaet developer untuk memindahkan (porting) aplikasinya ke platform itu.



"Huawei berkomitmen (untuk platform ini), dan memang harus kerja keras. Saya harus keliling ke pemilik top apps di seluruh Indonesia (untuk mengajak masuk ke HMS)," kata Khing Seng.

Menurutnya, saat ini sudah ada sejumlah aplikasi populer dari Play Store yang berjalan normal ataupun cukup normal di HMS. Ia juga menjanjikan kepada para developer kalau proses porting aplikasi dari GMS ke HMS tidak sulit.

Simak Video "Huawei Mate 30 Pro Hadir dengan 4 Kamera Belakang"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)