Kamis, 27 Jun 2019 07:15 WIB

Fast Charging Ponsel Sudah Lewat 100W, Aman Nggak Sih?

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: Internet Foto: Internet
Jakarta - Teknologi pengisian daya cepat atau fast charging sangat membantu para pengguna ponsel, terutama bagi mereka yang sering menggunakannya di luar ruangan atau berpergian.

Fast charging pada smartphone saat ini terus berkembang. Hitungannya pun tak lagi belasan melainkan sampai puluhan, bahkan telah tembus angka 100-an. Sebut saja Oppo, Samsung, dan Xiaomi yang belakangan ramai meramaikan pemberitaan dengan teknologi cas cepatnya masing-masing.

Yang teranyar, Vivo membuat gebrakan dengan memperkenalkan teknologi fast charging-nya yang terbaru. Cas kilat itu bisa mencapai 120W, angka tertinggi saat ini, sehingga pengisian daya smartphone pun bisa berlangsung kian cepat.




Bagaimanapun, ada yang risau bahwa kemudahan tersebut bakal berdampak pada umur baterai yang kabarnya menjadi lebih pendek. Ada pula yang merisaukan potensi ponsel jadi mudah meledak. Apa benar?

"Charging cepat memang ditengarai punya efek terhadap umur baterai. Tapi memang ini jalan singkat yang sepertinya harus ditempuh karena kebutuhan dan ketergantungan banyak orang terhadap smartphone yang semakin meningkat, sampai kita punya teknologi baterai yang lebih baru," kata pengamat gadget Lucky Sebastian, dihubungi detikINET, Rabu (26/6/2019).

Mengutip penelitian terbaru dari Universitas Purdue di Amerika Serikat, Lucky mengatakan fast charging memang membuat sel baterai lebih cepat rusak.

Efek lain dari fast charging adalah membuat perangkat jadi lebih cepat panas. Dijelaskan Lucky, prinsip fast charging itu sederhana berdasarkan fisika, yakni Daya (Watt) = Tegangan (Volt) x Arus (Amphere).




Jadi jika ingin baterai cepat mengisi, beri daya yang besar. Caranya dengan memilih salah satu, menaikkan tegangan atau arus.

"Efek dari menaikkan tegangan adalah panas. Karena gerak elektron di dalam baterai dibuat lebih cepat sehingga efeknya panas," sebutnya.

Potensi Meledak?

Dikatakan Lucky, potensi baterai meledak karena suhu yang memanas selalu ada. Untuk hal ini, vendor smartphone mengantisipasinya dengan memberi chip pengaman pada smartphone fast charging. Chip ini mengontrol otomatis proses pengisian daya.

"Misalnya, saat ponsel yang sedang diisi ulang baterai juga digunakan bermain game berat, ada panas yang dihasilkan dari dua sumber, yakni proses charging dan prosesor. Maka, chip akan mengatur supaya proses charging dikurangi kecepatannya agar tidak overheat," urainya memberikan contoh.




Berkenaan dengan dampak fast charging terhadap umur baterai, Lucky menjelaskan bahwa umur baterai dihitung dalam siklus yang bergantung dari cara kita mengisi ulang baterai, kualitas baterai, dan lain-lain.

"Jadi setiap tahun biasanya kapasitas baterai tidak lagi 100%, umumnya menjadi 80%. Kalau dulu misal tahan 5 jam screen on time, mungkin jadi 4 jam setelah 1 tahun. Nah fast charging mungkin bisa berkurang lebih dari itu," ujarnya.

Namun menurut pria asal Bandung ini, para vendor smartphone juga mencari cara supaya efek fast charging idak benar-benar memperburuk kondisi baterai dengan cepat.

Biasanya baterai-baterai yang mendukung fast charging juga dibuat sedikit berbeda dengan baterai biasa, misal mempertebal bagian katoda. Atau ada vendor yang membagi baterainya menjadi 2 buah di dalam smartphone.




"Jadi mereka juga melakukan banyak perhitungan agar baterai tetap lama umurnya," sambungnya.

Sehubungan dengan faktor keamanan, Lucky yakin vendor smartphone pun sudah memperhitungkan segala sesuatunya, terutama mencegah agar tidak terjadi panas berlebih yang bisa memicu baterai meledak.

"Vendor pastinya ingin charging cepat karena sudah menjadi standar tuntutan dan spek sekarang. Tetapi mereka juga tetap harus memikirkan risikonya, terutama keamanan dari kebakaran dan lain-lain karena bisa merusak reputasi," tutupnya.




Simak Video "Juara Dunia! Tim Mobile Legends Indonesia Raup Rp 1,1 M"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/krs)