Rabu, 29 Mei 2019 02:53 WIB

Huawei Digencet AS, Harga P30 Pro Bekas Dikabarkan Terimbas

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Huawei P30 Pro. Foto: Rachmatunnisa/detikINET Huawei P30 Pro. Foto: Rachmatunnisa/detikINET
Jakarta - Huawei P30 Pro pertama kali dirilis secara global pada akhir Maret lalu dengan harga mulai dari 999 euro. Akibat imbas dari Huawei digencet Amerika Serikat, harga P30 Pro bekas pakai tercatat anjlok di beberapa penjual.

Satu penjual yang sedang ramai diwartakan mengenai kasus ini adalah Music Magpie, situs tukar tambah yang berbasis di Inggris. Di situ, tercantum bahwa pemilik P30 Pro hanya akan mendapat 100 paun (Rp 1,8 juta) jika ingin menjualnya melalui platform tersebut.



Harga Jual Huawei P30 Pro anjlok.Foto: Screenshor Music Magpie

Itu pun kondisinya harus masih bagus. Kalau sudah jelek, harga tawaran dari Music Magpie bisa menjadi 50 paun (Rp 900 ribu), bahkan dapat menyentuh angka 10 paun (Rp 182 ribu). Satu catatan, P30 Pro yang dimaksud merupakan versi RAM 8GB dan ROM 128GB.

Selain itu pendahulunya, P20 Pro, juga cuma dihargai 50 paun bagi siapa pun yang mau menjualnya ke situs tersebut. Padahal, beberapa bulan lalu, ponsel ini dilaporkan masih berharga sekitar 280 paun (Rp 5,1 juta).

Fenomena ini juga terjadi pada beberapa penjual di Singapura. Sejumlah toko di Negeri Singa menghargai P30 Pro bekas dengan nilai SGD 200 (Rp 2 juta) - SGD 300 (Rp 3 juta). Padahal, saat dirilis di sana, harga jual untuk ponsel tersebut berada di angka SGD 1.390 (Rp 14,5 juta).




Lebih lanjut, sejumlah toko turut mengaku permintaan terhadap ponsel Huawei secara keseluruhan ikut merosot. Salah satu pemilik toko mengaku hanya bisa menjual 2-3 unit ponsel Huawei saja sekarang, dari yang sebelumnya bisa 20 unit, sebagaimana detikINET kutip dari Straits Times.

Patut digarisbawahi bahwa boleh jadi fenomena ini tidak memberikan gambaran menyeluruh. Tapi faktanya adalah di beberapa penjual, harga P30 Pro bekas kena imbas setelah Huawei digencet AS.

Ini tidak lepas dari kabar ditinggalnya Huawei oleh sejumlah perusahaan teknologi dunia, seperti Google, Intel, Qualcomm, dan ARM, setelah masuk dalam "daftar hitam" dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump -- yang membatasi aksesnya terhadap produk yang dibuat, sepenuhnya atau sebagian, oleh perusahaan AS.





(mon/krs)