Kamis, 13 Des 2018 12:09 WIB

Kaizala Dimiripkan dengan WhatsApp, Bagaimana Imbasnya ke Skype?

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Muhamad Imron Rosyadi/detikINET Foto: Muhamad Imron Rosyadi/detikINET
Jakarta - Microsoft kini punya Kaizala, sebuah aplikasi berbagi pesan yang punya kemiripan dengan WhatsApp. Apa Kaizala memang punya tekad menggoyang WhatsApp?

Microsoft sudah mulai menggaungkan nama Kaizala di Indonesia. Sebelumnya, platform tersebut sudah diluncurkan secara global pada awal bulan lalu.

Banyak pihak yang menyebut Kaizala mirip dengan WhatsApp. Selain status keduanya yang sama-sama messenger, tampilan dua aplikasi ini pun juga disebut memiliki kemiripan.




Lantas, apakah Microsoft memang akan menggunakan Kaizala untuk menggoyang posisi WhatsApp yang sudah memiliki miliaran pengguna di seluruh dunia? Begini kata Modern Workplace Business Group Lead Microsoft Indonesia Wahjudi Purnama.

"Microsoft menciptakan Kaizala karena melihat kebutuhan Frontline workers untuk berkolaborasi dengan mempergunakan aplikasi chat, karena banyak consumer messaging yang hanya menyediakan fitur komunikasi," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima detikINET.

"Kaizala selain menyediakan fitur komunikasi juga menambahkan fitur action card untuk berkolaborasi dan getting things done through chat. Kaizala juga didukung oleh Microsoft cloud sehingga security dan privacy-nya sudah mengikuti standard dunia," katanya menambahkan.




Selain itu, Kaizala yang sudah memiliki fitur video call pun membuat posisi Skype menjadi dipertanyakan. Jangan-jangan nanti Kaizala malah jadi seperti "memakan saudara sendiri". Bagaimana nasib platform tersebut, yang awalnya disebut sebagai pelengkap Kaizala?

"Microsoft menyediakan berbagai productivity tool untuk dipakai sesuai kebutuhan user. Microsoft Kaizala selain menyediakan layanan call juga mempunyai action card yang bisa dipergunakan untuk menyampaikan informasi dan mendapatkan insight dari semua anggota group," tuturnya.

"Microsoft sampai saat ini kita belum ada roadmap untuk menggabungkan aplikasi-aplikasi yang sudah ada karena kita melihat bahwa aplikasi untuk melakukan kolaborasi itu punya kebutuhan yang berbeda-beda," ucapnya.


(mon/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed