Di atas kertas, Xiaomi lebih dulu hadir di Indonesia dibandingkan Honor. Tapi keduanya sudah sama-sama punya sokongan besar dari basis pendukung masing-masing, yaitu Honor Fans dan Mi Fans.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di dalam pasar pasti ada yang datang lebih dulu. Tapi bukan berarti yang datang duluan itu lebih baik dan yang belakangan lebih buruk. Tidak ada yang bisa memastikan," katanya.
"Saya yakin lebih dari 100% dengan produk Honor. Itu jadi landasan yang kuat untuk masuk ke persaingan," ucap James Yang menuturkan.
Ungkapan James tersebut dibuktikan dengan peningkatan brand awareness Honor di Indonesia. Sejak April 2018 sampai saat ini, kesadaran masyarakat terhadap merek tersebut naik 23%.
Walau demikian, ia tidak ingin perusahaan dan produk buatannya disebut sebagai "Xiaomi Killer". Menurutnya, pelabelan tersebut tidak memberi manfaat apa-apa buat Honor.
Baca juga: Honor 8X Tiba di Indonesia, Berapa Harganya? |
"Membunuh produk lain bukan strategi Honor. Walaupun kami berhasil melakukannya tidak membuat kami menjadi hebat. Belum tentu setelah membunuh lawan membuat kami bisa bertahan di pasar," tuturnya.
"Tapi jangan main kotor, karena kalau main kotor bisa kami balas," ucapnya menegaskan.
Baca juga: Honor 8X Disebut sebagai Flagship Killer |
Tonton juga 'Keluarkan Produk Baru, Honor Siap Bersaing di Indonesia':
(mon/krs)