Senin, 09 Jul 2018 10:14 WIB

Laporan dari Shenzhen

Strategi Huawei Bendung Vendor Senegaranya di Indonesia

Jabbar Ramdhani - detikInet
Ponsel Huawei P20 Pro. Foto: Amanda Rachmadita Ponsel Huawei P20 Pro. Foto: Amanda Rachmadita
Shenzhen - Huawei mengakui Indonesia punya potensi pasar yang besar untuk penjualan smartphone yang mereka punya. Bagaimana strategi mereka menghadapi persaingan, khususnya dari sesama ponsel asal China yang makin agresif?

"Setelah kunjungi Shanghai dan Shenzhen, Anda akan menyadari terhadap komitmen kita di bisnis. Perusahaan ini serius di R&D (research and development)," kata Presiden Marketing and Sales Service, Huawei Consumer Business Group, Jim Xu, baru-baru ini.

Jim mengungkapkan hal itu kepada awak media dalam acara APAC Media China Trip 2018 di kantor pusat Huawei di Shenzhen. Huawei sendiri sempat mengajak media untuk mengunjungi kantor R&D mereka yang berada di Beijing.



Di sana ditampilkan serangkaian tes kepada produk mereka yang akan dipasarkan. Selain tiga kota itu, Huawei juga punya laboratorium di Xian dan Wuhan. Total mereka punya 284 laboratorium dan 367 tempat tes dengan total luas 58.399 meter persegi.

Laboratorium sebanyak itu dimiliki Huawei karena mereka ingin melahirkan produk yang punya performa kuat dan masuk kelas premium. Produk-produk ini dikeluarkan sebagai branding mereka.

Namun, Jim Xu melihat ponsel premium belum begitu menarik banyak peminat di Indonesia. Di waktu Depan, Huawei pasang strategi untuk lebih banyak mengiklankan produk kalangan mid-end dan low-end.

"Saat kita mulai b to b business, kita lakukan kesalahan. Indonesia adalah pasar yang besar di smartphone. Ada banyak pengguna dari berbagai segmentasi. Di segmentasi low-end dan mid-end, kita perlu investasi besar untuk promosi. Sangat sulit keluarkan produk premium di Indonesia," ungkap Jim.

Dia menambahkan, Huawei akan tetap fokus mengembangkan ponsel kelas menengah ke atas. Mereka ingin pelanggan merasakan ponsel berkualitas dengan harga yang pantas.

"Konsumen akan sadar produk kita beda dengan ponsel China yang lain. Dan konsumen akan tahu harga yang ditawarkan Huawei pantas," ucapnya.

Meski market share di Indonesia hanya 5%, kata Jim, jumlah itu masih lebih besar dari Malaysia dan Thailand. Selanjutnya, bagaimana Huawei meyakinkan konsumen untuk membeli produk mereka?

Jim mengatakan sejauh ini mereka telah membentuk tim di India, Thailand, dan Malaysia. Di regional itu, mereka akan menentukan spesifikasi yang dianggap penting oleh konsumen lokal.



Setidaknya, spesifikasi yang sudah tergambar yakni layar yang lebar, kapasitas baterai yang besar, serta kemampuan fotografi dan selfie.

Huawei juga akan meneruskan kerja sama dengan operator untuk menguji kompatibilitas smartphone mereka dengan jaringan yang ada. Jim mengatakan bisnis mereka secara global naik dua kali lipat karena kerja sama ini.

"Jalan masih panjang. Tim R&D akan lakukan hal beda bagi market Indonesia. Di Indonesia, kami berjuang untuk survive. Kami tak akan menyerah, kami akan berjuang untuk branding," kata Jim. (jbr/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed