Minggu, 08 Jul 2018 08:10 WIB

Laporan dari Shenzen

Kisah Huawei Dulu Terseok Kini Pepet Samsung dan Apple

Jabbar Ramdhani - detikInet
Huawei P20 Pro. Foto: Amanda Rachmadita Huawei P20 Pro. Foto: Amanda Rachmadita
Shenzen - Huawei mengalami pertumbuhan bisnis sangat cepat dalam beberapa waktu terakhir. Sempat terseok-seok di negeri sendiri, Huawei ada di belakang Samsung dan Apple yang saat ini memimpin industri ponsel pintar di dunia.

"Empat tahun lalu saya masih ingat kita berjuang survive di China. Di internal meeting kita bertanya 'dapatkah kita bertahan di China?'. Saat itu Samsung nomor 1 di saat Nokia gagal," kata Presiden Marketing and Sales Service, Huawei Consumer Business Group, Jim Xu.

Hal ini diungkapkan Jim dalam acara APAC Media China Trip 2018. Saat itu produsen China seperti Huawei, Xiaomi, Oppo, dan Vivo market share-nya masih belum mencapai 1%. Jim mengatakan hal ini terjadi di banyak negara.



"Di Thailand banyak smartphone dari China tapi jumlahnya kalau digabungkan kecil. Investasi kami besar, jadi produk kami baik tapi saya akui masih sulit menyampaikan ke konsumen," ujarnya.

Hingga kemudian Huawei melakukan perubahan strategi pasar dengan mengubah pangsa pasar utamanya ke kelas premium. Huawei berusaha membangun citra perusahaan dengan mengeluarkan ponsel performa tinggi dengan desain cantik.

Eropa jadi sasaran utama pasar mereka. Langkah ini berhasil dan mengangkat angka penjualan Huawei.

"Kami ingin Huawei dianggap brand high-end. Kita investasi sangat banyak di pasar Eropa. Market share kami saat ini sudah mendekati nomor 1. Di Prancis dan Inggris terjadi perkembangan besar," klaim Jim.

Upaya branding Huawei tergolong berbeda dibanding produsen lain. Upaya mendekatkan diri dengan konsumen yang biasa dilakukan lewat promosi dengan iklan tak dilakukan.

Huawei kemudian investasi besar-besaran pada sektor penelitian dan pengembangan produk (research and development atau R&D). Pada 10 tahun terakhir, Huawei mengklaim telah melakukan investasi untuk R&D hingga mencapai 62,5 miliar USD atau sekitar Rp 875 triliun.

Beberapa inovasi pun dilakukan, di antaranya mengeluarkan ponsel dual kamera pertama dan ponsel berkapasitas baterai besar. Terbaru, lewat P20 Pro Huawei menawarkan ponsel pertama dengan 3 kamera Leica yang dijamin bisa menghasilkan foto yang mantap.

"Brand nomor satu, sales nomor 2. Yang terpenting adalah branding. Kita mulai masuk dari segmen premium," ucap dia.

"Konsumen butuh inovasi. Kami perlu kerja keras lagi untuk bawakan teknologi untuk konsumen. Kalau tidak seperti itu, apa alasan konsumen pilih kami?" sambung Jim.

Dia mengatakan adanya P series juga membuat penggunanya makin banyak. Jika awalnya Huawei lebih banyak dipakai pria, kini wanita juga ikut memiliki perangkat produsen yang berpusat di Shenzhen ini.

Huawei juga memperbaiki cara komunikasi dengan pelanggan seperti membuat situsnya lebih sederhana dan memberi feedback konsumen di sosial media.



Sementara soal penjualan unit, Huawei memilih cara tradisional. Mereka tidak ikut vendor lain yang gencar memasarkan produk di e-commerce. Mereka memilih bekerja sama dengan retail operator.

"Beberapa brand bekerja sama dengan e-commerce. Dan banyak yang dapat untung di kedua belah pihak. E-commerce memang berkembang sangat cepat. Untuk Huawei brand sendiri kami ingin lakukan dengan cara tradisional. Kami ingin jual produk kami dari pasar awal sampai high-end agar pengguna langsung menyampaikan isu ke kami lewat offline service center yang ada," tuturnya.

Di 2017, pengiriman smartphone Huawei tercatat 153 juta unit. Pendapatan mereka mencapai USD 36 miliar. Huawei berada di posisi 3 untuk pangsa pasar smartphone global dengan market share 11,3 %. Sementara pangsa pasar perangkat premium diklaim mencapai 33,1%. (jbr/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed