Rabu, 23 Mei 2018 16:44 WIB

Senator AS Minta Trump Jangan Kasihani ZTE

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Presiden AS Donald Trump. Foto: Reuters Presiden AS Donald Trump. Foto: Reuters
Jakarta - Sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap ZTE yang dijatuhi dianggap ambivalen dan dapat sangat berbahaya. Hal tersebut dikatakan oleh Mark Warner, Senator AS dari wilayah Virginia.

"Ini merupakan perusahaan yang menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional," ujar politisi dari Partai Demokrat tersebut, sebagaimana detikINET kutip dari CNBC, Rabu (23/5/2018).

"Dan jika ancaman tersebut benar-benar nyata, dan kami akan mendengarkan lembaga intelijen, ini merupakan perusahaan yang melanggar aturan Amerika Serikat," katanya menambahkan.

"Bagi Trump yang secara sewenang-wenang, tergantung hari apa ia ingin menulis kicauan, untuk memutuskan hukuman apa yang dapat diaplikasikan, atau memilih untuk menempuh jalan lain, saya melihatnya sebagai tindakan yang sangat berbahaya. Dan itu bukan merupakan cara yang kita inginkan untuk mengirim pesan ke negara seperti China," tuturnya melanjutkan.



Selain itu, Warner juga mengatakan bahwa Trump tampaknya tidak mendapat informasi yang dimiliki oleh lembaga intelijen. Hal tersebut, menurut Warner, membuat Presiden Amerika Serikat ke 45 itu melontarkan pernyataan yang kerap bertolak belakang.

"Satu hari ia mengatakan untuk bersikap keras, hari berikutnya ia berbicara mengenai niatannya untuk menyelamatkan pekerjaan masyarakat China, dan kini ia berada di situasi yang menempatkannya di tengah-tengah," ucap Warner.

"Saya pikir itu bukan cara kami bekerja sebagaimana mestinya," pungkasnya.

Dalam beberapa waktu belakangan, keputusan Trump untuk membela ZTE dan China memang dianggap aneh oleh para legislatif AS. Keputusannya untuk memperjuangkan keringanan hukuman terhadap ZTE dianggap sangat bertolak belakang jika melihat gaya kepemimpinannya yang selama ini dinilai mengedepankan azas "America First" di setiap kebijakannya.

Lalu, jika mengacu pada azas tersebut, memang aneh melihat Trump yang menjamin jutaan kesempatan kerja di AS dalam masa kampanye justru memperjuangkan nasib para pekerja ZTEyang terancam kehilangan pekerjaan. Melalui akun Twitternya, ia mengaku terlalu banyak pekerjaan yang hilang jika perusahaan asal China tersebut masih dijatuhkan hukuman berat.

Selain itu, keanehan lain yang bisa dilihat adalah perubahan sikap dari Trump itu sendiri. Sebelumnya, ia sangat mengkritik keras pihak China yang dituding mencuri kekayaan intelektual milik AS. Kini, pria berusia 71 tahun tersebut malah berusaha menyelamatkan perusahaan yang notabene berusaha bersaing dengan vendor asal AS seperti Apple.

Kemudian, Trump yang menginginkan AS kuat pada sektor militer dan bisnis, justru tidak mengindahkan laporan dari House Intelligence Comitte pada 2012 lalu. Laporan tersebut menjelaskan bahwa ZTE tidak dapat dipercaya karena berpotensi menjadi ancaman keamanan nasional dan sistem dari AS.



Lalu, cukup aneh jika melihat Trump yang memasukkan Iran dan Korea Utara ke dalam daftar hitam, justru bersikap lunak terhadap ZTE yang diketahui mengirim perlengkapan teknologi kepada kedua negara tersebut. Lunaknya sikap Trump itu pun cukup bertolak belakang dengan sifat presiden AS ke 45 ini yang dikenal selalu ingin menang.

Baru-baru ini, ia pun mengaku bahwa para legislatif berusaha untuk menghalanginya dalam meringankan sanksi yang diterima oleh salah satu vendor smartphone global tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan rencana untuk menghapus denda dari daftar penalti yang akan diterima oleh ZTE. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed