Jumat, 18 Mei 2018 17:02 WIB

Fenomena Ponsel Gaib, Ulah Siapa?

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: Muhammad Ridho Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Belakangan terjadi perbincangan hangat di kalangan pengguna smartphone di Indonesia soal ponsel gaib. Ada yang menilai fenomena itu sengaja diciptakan oleh vendor untuk mendongkrak sisi marketing mereka, benarkah?

Untuk diketahui ponsel gaib adalah istilah bagi smartphone anyar yang dijual secara flashsale. Dalam hitungan detik, ponsel tersebut laku terjual.

Alhasil, banyak konsumen sukar mendapatkannya. Kemudian muncul dugaan bahwa ponsel itu sepertinya tidak benar-benar dijual oleh vendor.

Menanggapi tren ini, Benjamin Regional Director of South East Asia Asus menampiknya. Pihaknya benar-benar menjual ponselnya, tapi memang stok yang tersedia tidak mencukupi dengan jumlah permintaan.

"Permintaan terlalu tinggi," ujar Benjamin saat ditemui diacarra peluncuran Zenfone 5 di Jakarta.

detikINET sempat menghubungi pihak Xiaomi dan Lazada. Pihak Xiaomi meminta tanggal 22 Mei mendatang saat acara peluncuran produk barunya. Sementara pesan WhatsApp yang dikirimkan ke CMO Lazada Achamd Alkatiri belum direspons hingga artikel ini ditayangkan.

Fenomena Ponsel Gaib, Ulah Vendor atau?Foto: Muhammad Ridho


Ulah Siapa?

detikINET juga sempat meminta pandangan dari pengamat gadget Lucky Sebastian dan Herry SW. Keduanya, kurang lebih punya pendapat yang mirip.

Lucky melihat saat ini tengah tren vendor menjual perangkat dengan spesifikasi mumpuni dijual dengan harga terjangkau. Sehingga menimbulkan permintaan yang besar.

"Kalau permintaan barang banyak, lebih banyak dari ketersediaan yang pasti melahirkan banyak celah," katanya.

Celah ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan lebih. Pihak-pihak ini kemungkinan punya akses langsung untuk melobi ke gudang atau mereka pemilik toko yang bisa menghimpun banyak pembeli.

"Jadi pembeli hanya menjadi calo, kan nanti yang bayar toko saat barang datang. Kemudian pembeli flash sale ini mendapat komisi. Karena barang yang jarang di pasaran, peminat banyak, harga bisa dijual lebih mahal, baik pemasan dan penampung sama-sama untung," ujar Lucky.

Senada dengan Lucky, Herry pun berpendapat fenomena ponsel gaib terjadi ketika permintaan jauh lebih banyak dari pada pasokannya. Kenapa akhirnya konsumen sulit mendapatkan ponsel idaman saat flash sale, Herry melihat sejumlah faktor.

Pertama stok yang disediakan memang sedikit. Bisa jadi ini bagian dari stategi hunger merketing atau bisa juga kapasitas produksi gagal mengimbangi jumlah permintaan.

Dia pun melihat kemungkinan ada pihak yang memiliki jurus ampuh memborong flash sale, misalnya menggunakan scripst atau bot. Jadi sangat mudah mendapat ratusan unit ponsel dalam sekali flash sale. Tidak menutup kemungkinan ada celah atau bug di marketing yang dipercaya melakukan flash sale.

"Pengamatan saya, pernah terjadi flash sale suatu merek ponsel dibilang dimulai pukul 11.00. Eh... lha kok mulai pukul 10.59 dan seterusnya barang sudah dibilang habis. Padahal, pukul 10.57 dan 10.58 iklan barang terlihat masih muncul," ujar Herry.

Namun pria asal Surabaya ini tidak sependapat bila fenomena ponsel gaib itu disebut penipuan. Pasalnya sesuatu dibilang penipuan kalau tidak ada barang yang dijual.

"Dalam aneka flash sale yang sudah terjadi, saya lihat beneran ada barang yang dijual, meskipun jumlah stoknya tak pernah ketahuan tepatnya berapa," kata Herry.

Dia pun menyakini bila fenomena ponsel gaib ini terus terjadi dapat mempengaruhi kepercayaan konsumen. "Sebab jika berkepanjangan, calon pembeli akhirnya mulai sebal," tegasnya.

Fenomena Ponsel Gaib, Ulah Vendor atau?Foto: Muhammad Ridho


Akan Berakhir

Lucky berkeyakinan fenomena ini tidak akan terus-terusan terjadi. Hal tersebut seiring meningkatnya produksi yang dilakukan para vendor untuk memenuhi permintaan pasar.

"Ketika produksi meningkat, sebagian pasar sudah terpenuhi, maka fenomena barang ghoib ini juga akan teratasi. Apalagi kalau semakin banyak brand bermain dengan cara yang sama, sehingga masyarakat memiliki banyak pilihan," kata Lucky.

Pria asal Bandung itu berharap para vendor terbuka soal jumlah produk yang di-flash sale. Ini akan memberikan kepercayaan lebih kepada masyarakat.

"Kalau seperti sekarang hanya bilang satu menit sold out, 30 detik sold out dan seterusnya, malah membuat orang bertanya-tanya dan mengira bahwa sebagian vendor ini hanya 'main-main'" pungkas Lucky.

Hal yang sama diutarakan Herry. Dia mengatakan sah-sah saja vendor melakukan flash sale sebagai strategi pemasaran. Namun baiknya pilih marketplace yang kompeten dan berani menunjukkan pergerakan sisa stok.

"Jangan memilih marketplace hanya semata-mata karena ia telah beroperasi di banyak negara. Lebih baik menggandeng marketplace atau situs belanja yang sedikit lebih kecil, tetapi cara kerjanya lebih profesional. Marketplace lokal pun saya lihat sudah ada yang mampu dan profesional kok," kata Herry.

Dilanjutkan Herry baiknya konsumen tidak perlu begitu bernafsu untuk segera memiliki ponsel baru. Karena itu dapat bantu membentuk pasar dengan iklim usaha yang lebih baik.

"Marilah kompak memberikan 'pelajaran' kepada pelaku bisnis. Kalau ada flash sale cuekin saja. Kalau pedagang di pasar offline jual di atas harga ritel resmi/SRP, abaikan saja. Jangan dibeli. Bila hal itu berkelanjutan, para joki dan tengkulak flash sale lama-lama akan pikir-pikir juga untuk ikutan bermain," punkasnya. (afr/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed