Rabu, 18 Apr 2018 19:16 WIB

Begini Cara Asus Jegal Peredaran Ponsel BM

Rachmatunnisa - detikInet
Suasana pabrik Asus. Foto: Rachmatunnisa/detikINET Suasana pabrik Asus. Foto: Rachmatunnisa/detikINET
Jakarta - Peredaran ponsel ilegal atau black market (BM) masih menjadi isu penting di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Salah satu vendor ponsel, Asus, berupaya mengatasinya dengan sejumlah cara.

"Salah satu cara kita adalah membuat propduk kita available di mana-mana, mau di toko laptop pun ada ponsel kita, di e-commerce pun ada. Sama dari sisi edukasi, kita juga informasikan ke dealer online maupun offline untuk selalu ready stock produk-produk kita," kata Head of Public Relations Asus Indonesia Muhammad Firman, saat acara kunjungan ke pabrik Asus di Batam, Kepulauan Riau.

Harga yang terbilang murah membuat ponsel BM kerap dipilih konsumen. Padahal, bila membelinya, pengguna justru malah akan dirugikan. Sementara jika membeli ponsel resmi, keuntungan yang dirasa konsumen akan jauh lebih banyak. Paling utama adalah ketenangan soal garansi jika terjadiu kerusakan.



"Dari sisi service juga semua data smartphone yang resmi masuk di Indonesia kan kita ada semua datanya. Jadi dari sisi service dia bakal reject kalau SNI atau IMEI-nya tidak terdaftar," sebut Firman.

Selain merugikan dari sisi konsumen, beredarnya ponsel BM di pasaran juga cukup membuat vendor ponsel itu sendiri pusing karena merusak kondisi pasar. Asus sendiri pernah mengalaminya.

Ini Cara Asus Atasi Peredaran Ponsel BMPabrik ponsel Asus bekerjasama dengan PT Satnusa Persada. Foto: Rachmatunnisa/detikINET


"Dulu pernah pas Zenfone 1 dan 2, kita pas habis launching barangnya sempat kosong. Kemudian banyak dealer yang ambil dari Singapura, Malaysia," cerita Firman.

Namun Asus memastikan, hal tersebut berupaya ditekan agar jangan sampai terulang. Keyakinan Asus bisa memberantas ponsel BM ini lantaran pihaknya sudah punya pabrik ponsel di Batam yang bekerjasama dengan PT Satnusa Persada.

Keberadaan pabrik ini, di samping membantu Asus memenuhi aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), juga agar stok ponsel terbarunya memadai, sehingga tak ada lagi yang memotong jalur dengan cara mengambil ponsel BM.



"Sekarang kita setelah kerjasama dengan Satnusa, kita sudah pastikan stok kita cukup untuk di pasaran," ujarnya.

Pemerintah berupaya mempermudah smartphone terbaru agar bisa melenggang di pasaran lebih cepat dari sebelumnya, dengan percepatan proses sertifikasi. Asus sendiri merasa senang mengetahui pemerintah memangkas birokrasi sertifikasi dan menantikan percepatan tersebut diimplementasikan. (rns/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed