Distro 'Waroeng IGOS' Siap Hinggapi Warnet
- detikInet
Jakarta -
Indonesia Goes Open Source (IGOS) berulang tahun Kamis (30/6/2005), untuk 'merayakan' itu pada Selasa 12 Juli 2005 mendatang akan meluncurkan Open Source Software (OSS). Aplikasi tersebut ditujukan sebagai distro Linux untuk warnet. Distro yang dinamai 'Waroeng IGOS' itu diprakarsai oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Kementrian Riset dan Teknologi, Departemen Komunikasi dan Informatika, Asosiasi Warnet Indonesia, Pasific Satelit Nusantara dan Universitas Gunadarma. Menurut Kemal Prihatman, anggota Tim IGOS, aplikasi 'Waroeng IGOS' mencakupi kebutuhan aplikasi warnet 1 server untuk 3-10 klien, PC desktop, aplikasi office, web browser, mail server serta manajemen dokumentasi. Khusus untuk aplikasi office, dikembangkan oleh Institut Teknologi Bandung.Waroeng IGOS akan diluncurkan di lobi BPPT Jl. MH Thamrin No 8 Jakarta. "Selain itu kita akan membuka open house aplikasi OSS yang bisa dilihat langsung oleh masyarakat," jelas Kemal saat dihubungi detikinet, Jumat (1/7/2005).Dominasi Microsoft Runtuh? Maraknya aksi sweeping penggunaan aplikasi dan sistim operasi bajakan diperkirakan akan membuat banyak pihak bermigrasi ke software gratisan. Pertanda runtuhnya dominasi Microsoft?Dengan menggunakan Open Source yang merupakan teknologi terbuka, menurut Kemal, akan memudahkan modifikasi dan inovasi selanjutnya. "Ayo kita bandingkan, antara sumber terbuka dengan yang tidak, mana yang lebih tinggi inovasi dan kreativitasnya?" Kemal menantang.Suryahadi, Chairman Asosiasi Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (APTISI) pernah mengatakan dengan digalakkannya pelatihan dan penetrasi open source, akan menjadi tekanan buat pihak Microsoft. "Hal itu akan jadi pressure buat Microsoft untuk menurunkan harga," kata Suryahadi."Dominasi monopoli Microsoft akan hilang dari segi bisnis," kata Tommy Ilyas, Sekretaris Direktorat Perguruan Tinggi (Dikti), Departemen Pendidikan Nasional, membenarkan pernyataan Suryahadi.Apalagi menurut Tommy, masalah penyalahgunaan hak atas kekayaan intelektual (HaKI) menyebabkan mahasiswa kehilangan sentuhan kreatifitas. Hal itu terlukis dengan fakta hampir 90 persen dari seluruh perguruan tinggi swasta menggunakan software bajakan. "Habit bajak-membajak di kalangan mahasiswa dan kalangan intelektual TI sudah membudaya. Hal itu menyebabkan mahasiswa jadi kurang kreatif," kata Suryahadi. "Dengan open source kita akan lebih menghargai HaKI," tambahnya. Tommy berharap kreativitas mahasiswa akan muncul dengan tersosialisasinya IGOS. Pernyataan itu diperkuat dengan pernyataan Kemal yang mengatakan teknologi informasi akan mengalami peningkatan dengan teknologi terbuka.
(rouzni/)