Kenali Risiko Beli Notebook Black Market
- detikInet
Jakarta -
Notebook baru tidak selamanya menjamin kualitas produk jempolan. Meski baru dibeli, notebook black market (BM) sering kali menambah risiko konsumen bertemu dengan produk yang 'terlihat baru' tapi tidak 'murni baru'. Banyak orang masih menganggap notebook sebagai produk mahal. Tergiur dengan harga murah, sering kali konsumen rela membeli produk BM alias produk yang ditawarkan bukan oleh distributor resmi. Meski lebih murah, notebook BM sering kali bermasalah. Seperti yang dialami Istiadi, salah seorang pegawai di sebuah perusahaan TI yang berkantor di Jakarta. Karena BM, notebook merek Toshiba yang dibelinya memang lebih murah dari produk sejenis yang beredar di pasaran.Tapi berselang 10 bulan dari produk tersebut dibeli, notebook milik Istiadi kini bermasalah di komponen adaptornya. Dia lalu mengorek kondisi notebooknya dengan lebih teliti. Setelah diusut, produk tersebut diketahui refurbish atau produk lama yang dipoles hingga seperti baru kembali. Istiadi pun menghubungi toko tempatnya membeli, Bhinneka.com, sebuah toko online kenamaan di Indonesia."Saya memang diberi tahu kalau produk itu BM, tapi tidak diinformasikan kalau produk itu refurbish," keluh Istiadi. Bhinneka pun ketika itu mengatakan bahwa pihaknya tidak tahu kalau produk itu refurbish.Bhinneka.com akan Lakukan EdukasiKetika dihubungi detikinet, Selasa (31/05/2005), Bhinneka.com, melalui juru bicaranya Herlia, mengatakan bahwa kondisi produk BM sudah diketahui pelanggan. "Secara default kita memang tidak menjual produk BM. Tapi ketika kita tidak punya produk dengan spesifikasi yang diinginkan pelanggan, kita lalu bantu mencarikan," katanya. "Ketika produk yang ada adalah produk BM, kita beri produk tersebut kepada pelanggan, dengan terlebih dulu kita memberi tahu kondisinya," papar Lia.Pernyataan tersebut ditanggapi Istiadi. "Kondisi bahwa produk tersebut BM memang sudah dijelaskan Bhinneka, tapi bahwa produk itu refurbish kita tidak diberi tahu," katanya. Menanggapi hal tersebut, Herlia mengatakan bahwa secara default di Indonesia tidak ada pemberitahuan kalau produk tersebut refurbish atau recondition.""Ini hanya masalah sosialisasi, karena ketidaktahuan konsumen," kata Herlia. "Kalau ada konsumen yang merasa dirugikan dari kondisi ini, kami akan tangani dengan baik sampai selesai. Kita akan buat kesepakatan yang saling menguntungkan," katanya.Setelah kejadian ini, Herlia mengaku bahwa pihaknya akan lebih fokus dalam melakukan edukasi bahwa membeli produk BM biasanya berisiko. Risiko yang dimaksud, bisa saja seperti yang dialami Istiadi yaitu mendapat produk refurbish dan jaminan garansi yang tidak disediakan oleh distributor resmi, tapi oleh toko. Garansi seperti itu, kata Herlia, biasanya berdampak pada ketersediaan spare part yang tidak bisa diusahakan secara cepat. Namun biasanya harga produk BM bisa terpaut sekitar Rp 500.000, lebih murah dari produk resmi. Lebih lanjut, Herlia menceritakan bahwa pihaknya selama ini selalu melakukan edukasi mengenai produk BM di berbagai mailing list (milis). Bahwa produk refurbish biasanya menjadi risiko pembeli produk BM, menurut Herlia, sudah banyak diketahui oleh konsumen notebook. "Kami jarang menerima keluhan dari konsumen berkaitan dengan kualitas produk. Karena itu memang sudah kesepakatan. Tapi kalau mereka tidak tahu itu adalah risiko produk BM, kami akan melakukan edukasi lagi," katanya.
(wicak/)