IDC: Gamer Juga Gemar Musik
- detikInet
Jakarta -
Seorang gamer menghabiskan berjam-jam untuk bermain game, di sisi lain mereka juga gemar mengkonsumsi produk musik. Demikian hasil survei terhadap 6000 gamer yang dilakukan oleh IDC, lembaga survei pasar teknologi informasi, dan IGN Entertainment. Akan tetapi, perusahaan di industri musik jangan buru-buru mengiming-imingi para gamer dengan beragam konser dan pertunjukkan musik. Menurut laporan IDC bertajuk 'Gamer Survey: Digital Audio Technologies and the Gamer' itu, potensi bisnis yang besar ada pada bagaimana menggabungkan musik ke dalam game. Seperti diberitakan oleh IDG News, Jumat (18/03/2005), survei itu digelar secara online pada situs-situs 'maniak game' seperti GameSpy.com atau TeamXbox.com dan lainnya selama bulan Agustus tahun lalu. Pertanyaan survei termasuk kebiasaan bermain game dan mendengarkan musik dari responden. Kebanyakan responden menghabiskan antara empat sampai 20 jam perminggu untuk bermain game. Hampir 20 persen di antarnya menghabiskan enam hingga sepuluh jam per minggu.Meskipun banyak menghabiskan waktu berekreasi di depan layar televisi atau komputer, mereka juga gemar mendengarkan musik. Sebanyak 35 persen responden mengatakan memiliki koleksi cakram digital (CD) musik sebanyak 100 hingga 299 keping. Bahkan, 16 persen dari responden memiliki 300 hingga 499 keping CD.Potensi PasarIni bisa jadi kabar gembira bagi industri rekaman, terutama di negara barat, yang mengalami penurunan penjualan CD dalam beberapa tahun terakhir. Namun industri musik jangan berharap banyak jika mempromosikan lagu-lagu boyband dan sejenisnya kepada para gamer. Menurut laporan IDC, 93 persen responden adalah pria. Mungkin musik yang lebih 'cadas' boleh jadi pilihan.Dalam hal musik digital, survei itu menemukan bahwa gamer juga gemar mengkonsumsi musik dalam format digital. Ada 83 responden yang mengakui memiliki musik digital dalam komputer rumahnya. Sebanyak 23 persen di antaranya mengaku punya lebih dari 1000 koleksi lagu.Di lain sisi, hanya sedikit dari responden tersebut yang berlangganan jasa musik digital seperti iTunes dan sejenisnya. Artinya, bisa diduga, koleksi musik digital mereka berasal dari 'jalur lain' seperti menyalin CD musik hingga mendapatkannya lewat jaringan 'gratisan' di Internet. IDC menyarankan perusahaan musik yang ingin mengejar pasar potensial ini untuk mencari rekanan dari industri game. Sebagai contoh, menggabungkan layanan musik dengan layanan semacam Xbox Live atau multiplayer game seperti Ragnarok.Sedangkan bagi produsen perangkat musik digital langkah yang tepat bukan berarti 'mengawinkan' perangkat game dan musik. Pasalnya, hanya sedikit responden yang ingin bermain game pada pemutar musik digital. IDC menyarankan, sediakan fungsi game sebagai fitur yang tidak dominan. Menurut IDC, produsen harus mendefinisikan produknya dengan jelas, pemutar musik atau perangkat game, jangan 'banci'!
(ien/)