Jadi di industri ponsel, ada dua pilihan teknologi layar yang bisa dipakai. Yang paling banyak dipakai adalah LCD dengan berbagai tipenya. Sedangkan yang satu lagi adalah AMOLED yang juga punya beberapa tipe, namun biasanya teknologi layar ini hanya bisa ditemui di ponsel-ponsel mahal.
Alasannya karena harga layar AMOLED memang lebih mahal dibanding LCD. Sebagai informasi, per akhir tahun 2015 lalu banderol AMOLED bentang 5 inch berada di angka USD 17,1, dibandingkan LCD yang dihargai senilai USD 15,7.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan harga yang lebih murah, terbuka lebar peluang layar AMOLED bakal jadi primadona untuk ponsel-ponsel di masa mendatang. Tak cuma yang kelas atas, bahkan sampai ponsel kelas bawah pun bakal bisa merasakan warna cerah khas layar AMOLED.
Samsung yang merupakan salah satu produsen layar AMOLED terbesar pun sepertinya telah melihat peluang tersebut. Demi menggenjot produksi layar AMOLED garapannya hingga 95%, perusahaan Korea Selatan ini telah menggandeng perusahaan China untuk membantu pembuatannya. Dulunya kapasitas produksi Samsung hanya berada di angkan 90%.
Di sisi lain, tren penggunaan layar berbasis OLED seperti AMOLED juga sudah dilirik Apple. Kalau mengacu pada gosip-gosip yang beredar, katanya Apple tengah menyiapkan iPhone berlayar OLED dengan bentang 5,8 inch untuk tahun 2017 mendatang.
Lantas apakah ini berarti tanda-tanda kematian layar LCD? Tentu belum bisa dipastikan, karena produsen LCD seperti Sony dan LG dengan layar IPS-nya pasti tak akan berdiam diri. Tak menutup kemungkinan keduanya akan melakukan perang harga. (yud/yud)