Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Sertifikat Ponsel Palsu? Ah, Cerita dari Masa Lalu'

'Sertifikat Ponsel Palsu? Ah, Cerita dari Masa Lalu'


Ardhi Suryadhi - detikInet

Jakarta -

Industri ponsel Indonesia tengah dihebohkan dengan tudingan sertifikasi ponsel palsu yang digunakan oleh ZUK Z1. Padahal bagi sebagian kalangan, ini hanya sepenggal dari cerita masa lalu.

Demikian diungkapkan gadget enthusiast Lucky Sebastian saat berbincang dengan detikINET, Rabu (23/12/2015). Kang Lucky β€” demikian pria ramah ini disapa β€” merupakan pentolan komunitas Gadtorade dan pernah juga punya toko jual beli ponsel di Bandung, Jawa Barat. Jadi ia punya cukup pengalaman untuk mengamati fenomena apa saja yang pernah terjadi di industri ponsel Indonesia.

"Peredaran sertifikat palsu ini sebenarnya cerita lama, dari zaman BlackBerry pertama kali booming juga sudah ada. Dulu kan banyak tuh importir-importir paralel, cuma ya itu kadang-kadang gak jelas, apakah betul atau tidak. Cuma yang pasti barangnya dijual di pasaran,” ungkap Lucky.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hanya saja, isu sertifikat Postel palsu ini dulu tak terlalu digubris oleh masyarakat. Di zaman BlackBerry jaya dulu, konsumen masih lebih memikirkan apakah perangkat tersebut ada garansinya atau tidak?

β€œBiasanya kalau garansi resmi lebih mahal dan garansi distributor lebih murah. Nah, orang dulu kan garansi distributor sudah cukup, padahal saat kita cek kadang-kadang juga gak jelas (garansi distributornya),” lanjutnya.

β€œTapi gak banyak orang yang mau mengecek (soal sertifikasi Postel), yang penting bagi mereka itu ada garansi. Orang baru mulai ngeh soal sertifikasi ketika bicara TKDN (Total Kandungan Dalam Negeri). Kalau dulu kan keliatannya orang gampang banget jadi importir,” Lucky menjelaskan.

TKDN memang jadi tantangan para vendor handset dunia jika mau mengekspansi pasar Indonesia. Dimana per Januari 2017 bakal dipatok TKDN 30% untuk ponsel 4G, namun dari sekarang sejumlah vendor sudah mulai menyicil sampai di angka 20%. Entah itu masuk dari aspek hardware, software atau desain.

β€œContohnya One Plus 2 dulu digadang-gadang ready, sudah ada preview. Kita merasa akan masuk tapi kan ternyata batal karena ada isu TKDN,” sebut Lucky.

(ash/rns)




Hide Ads