Ide sederhana namun serbaguna tersebut diwujudkan dalam sebuah casing handphone bermaterial kulit warna cokelat. Produk itu dihadirkan dengan kain sutra berlipat di bagian bawahnya sehingga terlihat seperti saputangan saku ketika dimasukkan ke dalam kantung. Dengan begitu, Anda bisa dengan mudah meletakkan ponsel di saku depan tanpa harus takut merusak tampilan saputangan saku.
Yang juga menarik adalah saputangan dihadirkan dengan berbagai macam warna dan motif. Hal tersebut tentu akan memudahkan pengguna mengganti kainnya untuk disesuaikan dengan keseluruhan tampilan busana. Fitur itu juga menjadikan casing ponsel kulit ini multifungsi karena bisa dipakai ketika tidak sedang ingin memakai jas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jimmy menamai produk edisi liburan Natal itu sebagai Pocket Dial. Ia terinspirasi mendesain bungkus ponsel tersebut setelah melihat tampilan ponsel yang sering 'beradu' dengan saputangan saku. Sebelum datang dengan ide ini, pria kelahiran New York tersebut bahkan pernah melakukan sebuah eksperimen dengan menempelkan saputangan saku ke ponselnya. Di situ lah, inovasi ini muncul yang kemudian ia tunjukkan kepada retailer J.Crew.
"Aku dan asistenku bergadang satu malam setelah acara dan menempelkan sebuah saputangan saku ke bungkus iPhone untuk membuat versi pertamanya. Aku pasti terlihat seperti orang gila ketika menemui Mickey Drexler (CEO J.Crew) di kantornya dan menunjukkan ide ini. Tetapi aku membawa es krim untuk mempermulus usaha," kata Jimmy dalam situs J.Crew.
Item tersebut sudah dijual dengan harga Rp 206 ribuan. Sayangnya, casing ponsel itu hanya muat untuk iPhone 6 dan 6s. Seluruh keuntungan dari penjualan Pocket Dial pun akan diberikan pada David Sheldrick Wildlife Trust, sebuah badan amal di Kenya dengan misi melindungi gajah dan gadingnya dari kepunahan.
(ami/rou)