Chief Legal Officer BlackBerry Global, Steve Zipperstein βmenegaskan pihaknya selama ini sudah melibatkan Indonesia dalam produksi handsetnya. Tak cuma dari hardware, pemenuhan TKDN juga datang dari sisβi software.
Saat ditemui di JS Luwansa, Jakarta, Selasa (25/8/2015), Zipperstein memaparkan upaya apa saja yang telah dilakukan perusahaan asal Kanada itu agar tetap boleh memasarkan handset 4G buatannya saat kewajiban konten lokal minimal 30% itu ditegakkan per 1 Januari 2017.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara dari sisi software, BlackBerry punya kantor di Bali yang khusus mengetes aplikasi. Tak cuma mengurusi 5.000 aplikasi buatan pengembang lokal, tapi tim BlackBerry Vetting Application Center itu juga menyortir 100.000 aplikasi global yang ada di BlackBerry World.
"Seperti yang telah dikatakan oleh Menkominfo Rudiantara dengan sangat jelas, TKDN yang dimaksud dari sisi hardware, software, dan desain. Kalau dihitung, mungkin kami sudah melebihi apa yang diminta. Karena kami tak hanya memenuhi kewajiban konten lβokal, tapi juga global," ucap Zipperstein.
Selain demi memenuhi kewajiban TKDN, BackBerry juga menyumbang kontribusi dari sisi pengembangan SDM lokal. Salah satunya bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk memberikan beasiswa bagi para mahasiswa yang bikin aplikasi smart city.
"Semua ini sudah dilakukan jauh-jauh hari oleh BlackBerry sebelum diminta. Hal seperti ini tak akan dilakukan oleh Apple maupun produsen Android lainnya," kata mantan bos Verizon Wireless itu.
(rou/ash)