Timothy Siddik selaku Ketua Umum Presidium AiTI, TKDN yang rapi tidak serta merta bikin perangkat di Indonesia saja, tetapi juga bagaimana ke depannya aturan ini mampu mengembangkan industri TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di Tanah Air. Agar bisa seperti itu, menurutnya TKDN harus dimulai dari bawah dulu alias hilirisasi.
"Semuanya harus dari bawah. Tidak bisa tuh seperti salah satu pejabat asing yang mengatakan Indonesia harus memiliki pabrik komponen. Lha mau dijual ke mana? Ke Tiongkok? Mereka mana mau beli," papar Timothy dalam jumpa pers di Sate Khas Senayan, Jakarta, Jumat (5/6/2015).
Lebih lanjut, Timothy memaparkan jika Indonesia sudah pasti merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara. Ini menurutnya potensi menjadi basis produksi.
"Jika Indonesia sudah memiliki perakitan, disusul beberapa tahun kemudian oleh komponen level yang akan otomatis masuk, sangat memungkinkan negara kita menjadi basis produksi paling tidak Asean," tambahnya.
Salah seorang anggota AiTI lainnya, Setyo Handoyo Singgih menambahkan bahwa paling tidak TKDN ini harus mencontoh industri otomotif. Semuanya dimulai dari hilir menuju hulu.
"Otomotif itu nilai tambahnya tiap tahun terus meningkat. Dan itu kan juga dimulai dari hilir. Ketika ada industri perakitan hilir, timbul industri komponen, seperti kita lihat jok, ban, dimana itu tumbuh dengan sendirinya," sebutnya.
(rns/rns)