Sebagian pengguna mengeluh 'tersakiti' oleh Google Glass. Menurut ahli kacamata dari Harvard University, Dr Eli Peli, masalahnya karena Google Glass memaksa penggunanya untuk terus mendongak ke atas.
"Padahal siapa pun tidak akan sanggup mendongak ke atas dalam waktu lama dan kalau pun dipaksa begitu mereka takkan merasa nyaman," terangnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi keamanan dan privasi Google Glass juga mendapat sorotan. Seorang hacker berhasil membuktikan bagaimana mudahnya seorang penjahat cyber meretas kacamata pintar tersebut.
βMenyusup ke dalam sistemnya relatif gampang. Anda tak perlu memecahkan kode, atau membajak server,β klaim hacker dengan nickname Bosboom.
Seperti dikutip detikINET dari Business Insider, Jumat, (27/6/2014), saat sudah masuk ke dalam sistem Google Glass, hacker tersebut dapat dengan mudah mengendalikan kacamata pintar itu. Misalnya untuk mengambil gambar saat pengguna sedang berada di tempat tertentu.
Hal ini tentu sangat berbahaya. Bayangkan jika kacamata tersebut dipakai saat transaksi perbankan di internet, atau melakukan aktivitas lain yang bersifat rahasia.
Kabar ini pun sudah sampai di telinga Google. Dan seperti biasa, raksasa internet itu berjanji akan melakukan perbaikan agar saat diluncurkan nanti produk ini bisa dipakai dengan nyaman dan aman.
βSemakin banyak feedback yang kami terima, maka kami akan membuat Google Glass semakin aman saat diluncurkan nanti,β kata juru bicara Google.
Artikel Terkait:
-. Kontroversi Google Glass, Intip Lawan Jenis Sampai Pornografi
-. FotoINET: Mari Kita Sambut Google Glass!
-. Fitur-fitur Keren di Kacamata Pintar Google
-. Aksi Konyol Fotografer Menjepret dengan Google Glass