Bukan tanpa alasan jika Advan belakangan ini lebih gencar untuk memasarkan produk smartphone dan tabletnya. Bahkan untuk aktivitas pemasarannya saja, vendor lokal ini sampai rela jor-joran menghabiskan biaya Rp 25 miliar setiap bulannya.
Usut punya usut, ternyata bisnis komputernya, baik untuk produk personal computer (PC) maupun All-in-One (AIO), sedang mandek. Hal ini diakui Direktur Marketing Advan Tjandra Lianto.
"Permintaan untuk komputer tetap ada, tapi sekarang ini pengguna PC dan laptop terus turun karena belum ada inovasi baru. Turun 60%, cukup signifikan," ungkapnya usai peluncuran Vandroid S5H di Senayan City, Jakarta, Kamis (6/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Advan masih akan tetap mempertahankan unit bisnis komputer yang telah melambungkan namanya sejak lama, dan diproduksi sendiri di pabriknya yang ada di Semarang, Indonesia.
Namun mengingat bisnis smartphone dan tablet sedang tinggi-tingginya, apalagi riset IDC mengatakan bisnis ini masih akan tumbuh 71% pada 2015 mendatang, maka Advan juga menyiapkan pabriknya di Semarang untuk produksi ponsel.
"Pabrik (untuk ponsel) di Semarang masih on progress. Kalau regulasi pemerintah mewajibkan kita untuk punya pabrik sendiri dalam tiga tahun ke depan, kita sudah siap. Sekarang kan baru perakitan PC dan All-in-One. Kalau semuanya siap mungkin di 2014 akhir ini. Tapi sekarang masih impor komponennya saja," lanjut Tjandra.
Selain menyiapkan pabrik ponsel, Advan juga terus memperkuat layanan purna jual untuk seluruh produknya. Dari yang tadinya cuma punya 38 titik sentra pelayanan, kini mau ditambah lagi jadi 50 titik. Tak cuma di kota-kota besar, namun juga masuk hingga ke tingkat kabupaten.
Untuk purna jual di kota besar, Advan lebih memilih untuk membeli sendiri lahannya. Agar dalam jangka panjang tidak dibebani lonjakan biaya sewa. Sementara untuk di kabupaten, perusahaan ini lebih memilih sewa dari pihak ketiga.
"Kami di Advan serius sekali untuk membangun brand dan purna jual. Itu sebabnya kami berani investasi besar-besaran. Konsumen itu nggak mau pusing, mereka beli di toko, kalau rusak ya dikembalikan ke toko kalau mau servis. Itu makanya kami jadikan satu untuk service center dan pemasaran," pungkasnya.
(rou/eno)