Menurut Erin Walline, Direktur End User Computing Solutions, User Experience & Insights Dell, mereka memiliki beberapa laboratorium usability di beberapa negara seperti China, Jepang, Jerman, Inggris, dan India. Di tempat itu, para ahli perilaku, psikolog, desainer, dan sebagainya berkumpul.
Secara rutin, Dell menggelar survei untuk menjaring masukan dan umpan balik dari konsumen. "Apakah bunyi papan ketik terlalu berisik, touch pad kurang sensitif, atau laptop terlalu panas," jelas Erin. Ada banyak sekali item desain yang dijaring lewat survei ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka harus menerjemahkan masukan subyektif itu menjadi sebuah engineering objective," lanjutnya, di sela-sela event Dell Solutions Summit di Beijing, yang turut dihadiri detikINET .
Lewat dari proses desain, Dell harus belanja komponen-komponen dan menentukan material apa yang akan dipakai di produknya.
"Kami membeli banyak sekali komponen dari seluruh dunia, sama seperti kompetitor-kompetitor kami," imbuh Kevin Dane, Direktur Eksekutif Client Product Quality Dell. Mereka mencari yang terbaik dan menguji semua calon pemasok komponen bagi Dell.
Setiap komponen -- mulai dari papan ketik, engsel, layar, dan sebagainya -- harus lolos pengujian yang sangat ketat di laboratorium Dell.
"Beberapa tombol di papan ketik harus melewati pengujian beberapa juta kali siklus pemakaian," kata Kevin.
Demikian pula beberapa komponen bergerak yang sensitif seperti engsel. Laptop dan tablet Dell juga harus lolos uji jatuh, goncangan, tekanan dan panas hinggga temperatur tertentu, untuk mengantisipasi pemakaian di lingkungan yang kurang bersahabat. Layarnya harus melewati uji gores, dan sebangainya.
Tuntas ujian fisik, semua aplikasi dalam produk Dell juga harus melewati rupa-rupa pengujian. "Seberapa mudah dikonfigurasi, seberapa cepat proses booting-nya, seberapa cepat dia menyala dari kondisi deep-sleep, dan sebagainya," Kevin menandaskan.
(sap/ash)