Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
ICT Outlook 2013
Menanti 'Aplikasi Pembunuh' untuk Pelanggan Mesin
ICT Outlook 2013

Menanti 'Aplikasi Pembunuh' untuk Pelanggan Mesin


Ardhi Suryadhi - detikInet

Ilustrasi (Ist.)
Jakarta -

Operator telekomunikasi dinilai jangan terpaku dengan layanan tradisional yang membidik pelanggan dari kalangan manusia. Padahal ada potensi bisnis lain yang memiliki peluang luar biasa besar, yakni bisnis yang membidik pelanggan mesin alias M2M (machine-to-machine).

Menurut Chariman Sharing Vision Dimitri Mahayana, jumlah pelanggan M2M melampaui 100 ribu pelanggan dan akan berkembang dengan cepat melewati 1 juta pelanggan bila ditemukan killer application-nya.

"Sebab secara teknologi sudah matang dan pasar sudah sangat siap, tinggal operator bekerja sama dengan bisnis integrator," lanjutnya, saat memaparkan hasil riset iT Extravaganza 2013.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelanggan yang dinamakan machine-to-machine (M2M) itu bisa berbagai macam. Mulai dari vending machine, GPS tracking, CCTV monitoring, video surveillance, dan lainnya.

Dalam beberapa tahun ke depan, diyakini jumlah pelanggan M2M akan terus meningkat. Lantaran mesin-mesin yang bisa disisipi SIM card ini jumlahnya banyak sekali. Mulai dari pendingin ruangan, kulkas, televisi, radio, motor, mobil, dan lainnya. Jumlahnya tak terbatas.

"Hanya saja operator masih terlena dengan bisnis tradisional, seperti layanan voice dan SMS. Padahal bisnis M2M itu tidak berbasis pulsa, tapi berbasis nilai. Kalau layanan itu bagus, user berani bayar berapa saja. Cuma ya itu, masih harus mencari killer application-nya," imbuh Dimitri, yang juga dosen di ITB itu.

Nah, di sinilah perlu keberanian dari operator untuk tidak menjalankan bisnis as usual. Terlebih, untuk terjun ke bisnis M2M, tantangan utamanya adalah soal paradigma bisnis yang harus diubah.

"Porsi operator di bisnis M2M memang kecil, paling besar di bisnis integrator. Namun nilai bisnis M2M ini besar sekali, pada tahun 2013 bisa mencapai Rp 1 triliun," Dimitri melanjutkan.

Angka itu tentu menggiurkan, namun pertanyaan yang kemudian muncul adalah, seperti apa 'aplikasi pembunuh' yang dibutuhkan agar membuat bisnis M2M booming?

"Kata kuncinya adalah security," ungkap Dimitri.

Sebab isu keamanan adalah faktor dasar yang dibutuhkan setiap orang. Misalnya, bisa saja, operator menggelar layanan surveillance mobile.

"Jadi cukup lewat ponselnya, pengguna sudah bisa mengakses CCTV yang dipasang di rumah. Ini terlihat sepele, tapi bisa membuat tenang penggunanya," tandasnya.

Sebelumnya, Country Manager Qualcomm Indonesia, Ben Siagian, menyatakan bahwa Indonesia tak akan menemui banyak kesulitan untuk mengadopsi teknologi M2M ini. Sebab, masyarakat sudah makin pintar dan sudah semakin dekat dengan teknologi.

"Indonesia sudah ready untuk adopsi teknologi M2M. Kondisi Indonesia saat ini tak seperti 10 tahun lalu," ujarnya.

Namun untuk tahap awal, mungkin baru di kota-kota besar saja teknologi M2M ini cepat diadopsi. "Mungkin baru di city tier-1 saja, seperti Jakarta dan Bandung yang lebih cepat.

Kota-kota yang tier-2 menyusul, tergantung tingkat adaptasi dan edukasinya juga," kata Ben.

Langkah Operator

Bisnis M2M sendiri sejatinya bukan barang baru bagi operator. Dimana beberapa operator sudah cukup banyak menjaring pelanggan dan revenue dari layanan yang mereka tawarkan.

Sebut saja XL Axiata. Berdasarkan data yang dihimpun Sharing Vision, XL telah memiliki 6 jenis layanan M2M dengan total lebih dari 92 ribu pelanggan, yang didominasi oleh kalangan industri.

Produk-produk M2M Xl antara lain: AMR atau Automated Meter Reader semisal smart metering untuk PLN (52 ribu pelanggan), POS atau Point of Sales contohnya EDC, Wireless ATM (39 ribu pelanggan), Enterprise Mobile Solutions (EMS), aplikasi mobile untuk korporasi.

Ada juga X-Locate untuk monitoring kendaraan dan pengiriman barang, Mob Xurveillance yakni pengawasan lokasi atau area tertentu melalui kamera (1.100 pelanggan), Personal Tracker, alat pelacak untuk mengetahui keberadaan seseorang (2.800 pelanggan).

Jika dikalkulasikan, rata-rata biaya per pengguna (ARPU) layanan M2M XL mencapai Rp 25 ribu.

Sementara Indosat memiliki jumlah pelanggan M2M sekitar 10 ribu yang didominasi oleh perbankan. Masih menurut data Sharing Vision, layanan M2M indosat antara lain berkolaborasi dengan pihak bank, PLN serta beberapa perusahaan taksi dan otomotif. Seperti layanan Fleet Monitoring (taksi), Smart Metering, serta ATM Network

Operator seluler terbesar di Indonesia, Telkomsel pun tak mau kalah. Anak usaha Telkom itu sebelumnya sempat memaparkan bahwa dari target 17 juta pelanggan di 2013, 5%-7% di antaranya akan datang dari segmen M2M.

Prediksi ini seiring terus diperkuatnya infrastruktur mobile broadband. Baik lewat 3G maupun 4G Long Term Evolution (LTE) di tahun berikutnya.

(ash/eno)





Hide Ads