Ultrabook merupakan segmentasi baru di komputer jinjing yang digagas oleh Intel. Belakangan, produsen prosesor raksasa itu semakin gesit mempromosikan ultrabook di kalangan pengguna komputer.
Sebagai pesaing, tentu AMD tak ingin (atau tidak bisa) menggunakan model kampanye sama. Alhasil, mereka pun muncul dengan nama ultrathin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, segmen inilah yang kini tengah disosialisasikan vendor PC dan komponen kepada para pengguna komputer. Terutama kepada mereka yang mobile tetapi butuh performa kelas atas.
Maklum saja, jeroan yang dibenamkan di ultrabook atau ultrathin tidak bisa dipandang sebelah mata, karena kebanyakan telah dipersenjatai dengan spesifikasi lumayan tinggi agar dapat mengakomodir kebutuhan pengguna kalangan bisnis yang membutuhkan kinerja cepat.
Meski Intel telah lebih dulu mengisi pangsa pasar notebook ultra tipis dengan mengusung nama ultrabook pada platform yang menggunakannya, AMD tidak tinggal diam. Dengan mengusung nama ultrathin, AMD coba menggoyang pasar.
Untuk memuluskan niatnya tersebut, partner yang pertama kali dipilih AMD merupakan raksasa elektronik yang sangat diperhitungkan kiprahnya, terutama di kelas smartphone maupun perangkat elektronik yakni Samsung.
Meski Samsung tidak menempati papan atas untuk urusan notebook, namun menurut Ryan Sim selaku Director Sales and Marketing AMD untuk kawasan ASEAN, pemilihan Samsung sebagai partner awal dalam pemasaran ultrathin diyakini merupakan pilihan tepat. Sebab Samsung telah memperlihatkan perkembangan agresif dalam hal pemasaran produk notebook.
"Pengembangan bersama partner lain untuk ke depannya juga sudah masuk agenda," lanjutnya ketika ditemui detikINET, di Grand Indonesia, Selasa (20/11/2012).
Namun sayangnya Ryan belum mau membocorkan siapa saja kandidat partner selanjutnya yang akan ikut mengembangkan ultrathin berplatform AMD tersebut.
(ash/ash)