Prediksi ini disampaikan oleh Teddy Tjan, Direktur Sales and Marketing PT.Teletama Artha Mandiri (TAM) saat berbincang dengan detikINET. Perkiraan tersebut disampaikan Teddy berdasarkan pengalaman banjirnya barang Cina bermerek lokal beberapa waktu silam.
"Kebanyakan hit and run. Mereka yang bertahan, ya mereka yang memang serius di industri ini. Kalau menurut saya tidak akan lebih dari 10 merek," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ingat tidak dengan motor Cina. Ada berapa merek waktu itu yang masuk. Dan berapa sekarang yang tersisa? Industri ini (ponsel - red) juga hampir sama lah. Siapa yang serius dia yang bertahan," katanya.
Saat ini ponsel lokal cukup mendominasi market ponsel secara nasional. Dengan banyaknya jumlah merek tersebut, marketnya pun terbagi-bagi. Perlu kejelian dan strategi pemasaran yang mumpuni untuk bisa meraup pasar dan bisa bersaingan dengan ponsel kenamaan.
"Di kota sudah pekat tingkat persaingannya. Sekarang sudah masuk ke tingkat kelurahan," kata Teddy menjelaskan situasi pertarungan market ponsel lokal.
Strategi Harga
Tidak dapat dipungkiri, konsumen Indonesia adalah konsumen yang sensitf terhadap harga. Namun untuk bisa bersaing dengan merek-merek ponsel lokal ataupun merek ternama lainnya, strategi harga tidaklah cukup.
"Inovasi adalah kekuatan utama. Harga murah hanya meningkatkan penjualan sementara. Jika konsumen sudah tahu bahwa satu merek tertentu hanya mengejar penjualan tanpa memperhatikan inovasi dan layanan purna jualnya, maka tinggal tunggu waktu saja," tegasnya.
TAM sendiri mencoba peruntungan dengan memproduksi ponsel dengan merek dagang Venera. Lama berkecimpung menjadi distributor bagi ponsel dengan merek-merek kenamaan, membuat TAM cukup percaya diri untuk nyemplung dalam industri ini.
"Jaringan distribusi dan after sales service yang kami miliki, didukung dengan inovasi yang terus kita lakukan menjadi modal dasar kita untuk membesarkan Venera," klaimnnya.
(afz/fyk)