Menurut Executive Chairman Google, Eric Schmidt, keberadaan chip NFC (Near Field Communication) membuat hal ini menjadi nyata. Dengan teknologi tersebut pengguna dapat memanfaatkan ponselnya layaknya kartu kredit.
"Google wallet payment system akan mulai dijajal di Jepang. Setelah baru terdapat di Amerika Serikat, dalam beberapa bulan ke depan baru akan masuk Asia. Ini tinggal soal masalah regulasi saja," tukas Eric, di ajang Google Mobile revolution, yang berlangsung di Tokyo, Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Teknologi ini terbuka bagi siapa saja. dan ponsel Android generasi terbaru akan bisa menjalankan fitur ini," tukas Eric.
Sebelumnya, Google mengaku telah bekerja sama dengan Citibank, Mastercard, First data dan operator Sprint untuk mengujicoba dan mengoperasikan layanan ini di sejumlah wilayah Amerika Serikat.
Google Wallet awalnya baru bisa bekerja di ponsel Google Nexus S yang beroperasi di jaringan Sprint. Kemudian akan diekspansi ke ponsel Android lain, namun hanya khusus yang memiliki teknologi NFC.
Chip NFC di ponsel memungkinkan user yang telah memasukkan detail kartu kreditnya, melakukan pembelian dengan sistem PayPass dari CitiMasterCard. Pengguna cukup mengacungkan ponsel di perangkat pendeteksi kala membeli barang dan pembayaran otomatis dibebankan pada kartu kredit.
Google Wallet bisa digunakan di 124 ribu toko di Amerika Serikat. Kemudian nantinya akan menyambangi 311 ribu lagi di seluruh dunia.
Google menjamin transaksi melalui Google Wallet dapat dilakukan dengan aman. Mereka mengklaim sekuriti adalah prioritas utama dalam layanan baru ini.
(ash/rns)