Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
ICC 2011
Ponsel 'Lokal': Terpinggirkan di Kota Besar, Meraja di Pinggiran
ICC 2011

Ponsel 'Lokal': Terpinggirkan di Kota Besar, Meraja di Pinggiran


- detikInet

Jakarta - Tak akan ada asap jika tak ada api. Pepatah ini tampaknya cocok dialamatkan untuk ponsel merek lokal. Rentetan brand ponsel yang mengatasnamakan 'lokal' terus bermunculan, tentunya fenomena ini dipicu oleh masih adanya peluang untuk mencicipi manisnya pasar dari ketatnya persaingan.

Di kota besar, nama deretan ponsel yang dibuat di China namun menggunakan merek Tanah Air ini tentu bakal tenggelam di tengah hantaman brand-brand besar internasional.

Sebut saja nama Nokia, Samsung, BlackBerry, iPhone, LG, dan lainnya. Sungguh, ponsel 'lokal' yang mengusung harga murah ini masih sulit untuk mendapat tempat di pasar. Terlebih jika ditilik dari kepercayaan soal kualitas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini diakui oleh Nuramin, General Manager HT Mobile, salah satu pemain ponsel merek lokal. Bahkan menurut pria berkepala pelontos ini, pertumbuhan bisnis ponsel merek lokal di kota besar macam Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan terjun hingga 50%.

"Sulit bagi ponsel 'lokal' bersaing di kota besar, karena di sini daya beli pengguna lebih mengarah ke ponsel branded," tukasnya, ditemui di sela International Communication Expo and Conference 2011.

Namun, lanjut Amin, hal ini berbeda ketika menilai ponsel 'lokal' di kota-kota kecil macam Kediri, Tegal, Jombang dan kota kecil lainnya. Di wilayah pinggiran ini, ponsel lokal justru bisa dibilang berjaya. Alasannya bisa ditebak, yakni soal harga.

Kota-kota kecil tentu memiliki daya beli yang tak sekuat kota besar. Jadi faktor 'harga murah' di sini memegang peranan sangat besar untuk mempengaruhi keinginan konsumen terhadap suatu alat komunikasi.

"Sekarang ponsel sudah sangat murah, dengan Rp 200 - 300 ribu Anda sudah bisa memiliki ponsel. Dan pertumbuhan penjualan ponsel lokal cukup menutupi penurunan pasar di kota besar," jelas Amin.

Ponsel 'lokal' sendiri saat ini memiliki omset 1,5 juta unit per bulan. Angka itu dihitung dari seluruh brand yang bermain di Indonesia.

"Waktu tahun 2007 jumlah brand ponsel 'lokal' ada sekitar 40 merek, tahun 2009 sudah lebih dari 100 merek. Namun yang agresif cuma 20-30 brand saja," lanjutnya.

"Jadi Anda jangan melihat ponsel lokal sudah tenggelam, coba lihat ke daerah pinggiran, justru perkembangan bisnis ponsel 'lokal' pesat," pungkas Amin.
 


(ash/rns)







Hide Ads