Hal tersebut diluruskan oleh Rex Lee, Regional Director Asus South East Asia, APAC, dalam bincang-bincang saat santap malam bersama detikINET bertempat di hotel Sheraton Taipei, Taiwan, Selasa (31/5/2011).
"Mungkin di Amerika dan Eropa tablet memang mengancam pasar netbook. Tapi di Asia lain, juga Indonesia," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal berbeda terjadi di segmen menengah ke bawah, seperti pelajar dan mahasiswa. Mereka biasanya menggantungkan semua tugas dan keperluan dengan netbook yang lebih mudah dijinjing kemanapun.
Lantas ketika pertanyaannya apakah netbook bakal tergantikan oleh tablet, ternyata tidak. "Sekarang pikirkan dengan harga sekitar Rp 2 jutaan orang sudah bisa membeli netbook, dengan segala fungsi seperti office, power point dan sebagainya. Sementara dengan tablet diatas harga netbook, orang belum bisa mendapatkan fungsi yang sebanding," imbuhnya.
Intinya, Eee Pad dan Eee PC sampai saat ini masih memiliki pasar masing-masing. Di Indonesia sendiri, saat ini tablet mulai booming. Itulah yang membuat Asus begitu percaya diri merilis jajaran tablet seperti: Eee Pad Transformer, Eee Pad Slider, Eee Pad Slate, Eee Pad MeMo 3D, atau PadFone.
(fw/rns)