Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Viral Live di Masjid Jepang, Kreator Tuai Pro Kontra

Viral Live di Masjid Jepang, Kreator Tuai Pro Kontra


Adi Fida Rahman - detikInet

Ken Kenobi, YouTube Jepang
Viral Live di Masjid Jepang, Kreator Tuai Pro Kontra. Foto: X.com
Daftar Isi
Jakarta -

Seorang kreator konten asal Jepang mendadak menjadi sorotan setelah melakukan live streaming di depan masjid terbesar di Jepang. Aksinya memicu perdebatan panas di media sosial, mulai dari dukungan hingga tudingan tidak menghormati tempat ibadah.

Kreator bernama Ken Kenobi dengan akun X @kenobi__ken diketahui melakukan siaran langsung di area trotoar publik di depan Tokyo Camii, masjid ikonik yang juga dikenal sebagai Tokyo Camii & Diyanet Turkish Culture Center.

Dalam video yang diunggah sekitar 20 Maret 2026, Ken terlihat melakukan live streaming seperti biasa. Namun situasi berubah ketika beberapa orang di lokasi-yang diduga pengunjung atau pihak terkait masjid-bereaksi terhadap aktivitas tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Ia mengklaim mendapat teguran hingga ancaman pemanggilan polisi, bahkan dituduh sebagai Islamophobia atau anti-Islam. Ken pun mengaku terkejut dengan respons tersebut, menyebut dirinya hanya melakukan live di ruang publik.

Video tersebut dengan cepat menyebar di platform X dan menjadi viral. Unggahan itu mengumpulkan puluhan ribu likes, repost, dan komentar dalam waktu singkat.

Respons netizen pun terbelah. Sebagian mendukung Ken Kenobi dengan alasan kebebasan berekspresi di ruang publik. Mereka menilai trotoar adalah area umum yang tidak seharusnya dibatasi untuk aktivitas seperti live streaming.

Namun di sisi lain, banyak yang mengkritik aksinya. Ken dianggap tidak sensitif terhadap lingkungan sekitar, terutama karena lokasi tersebut merupakan tempat ibadah yang memiliki aturan dan nilai tertentu.

"Anda perlu mengetahui sejarah Tokyo Camii sebelum wawancara di sana. Itu adalah aset Kedutaan Besar Turki dan tidak sembarang orang dapat mengambil video dengan bebas. Sama seperti tidak semua orang diizinkan untuk merekam Kedutaan Besar Amerika, bahkan dari luar, " kata @sikasep45.

"Anda mengganggu orang, bukan mewawancarai. Periksa definisi wawancara dan pastikan apa yang Anda lakukan adalah pelecehan," kata @Alienmob.

"Jika Anda memiliki masalah dengan orang-orang yang membangun lembaga keagamaan di Jepang yang bukan berasal dari Jepang, bukankah seharusnya Anda berurusan dengan politisi Anda dan bukan mengganggu orang-orang yang mengikuti hukum dan melakukan apa yang diizinkan oleh hukum?" kata @JS1554404933700.

"Mereka bilang kamu anti-Islam?!! Setelah menonton videomu, aku bisa bilang ya, memang benar." ungkap @thifaalnalla,

Perdebatan ini berkembang menjadi diskusi lebih luas soal batasan konten digital, etika di ruang publik, serta pentingnya menghormati perbedaan budaya.

Status Tokyo Camii dan Sensitivitas Budaya

Tokyo Camii bukan sekadar masjid biasa. Tempat ini memiliki nilai historis dan diplomatik yang kuat dalam hubungan Jepang dan Turki.

Masjid pertama kali dibangun pada 1938 sebagai Tokyo Islamic Prayer Hall, lalu direkonstruksi pada tahun 2000. Pada 2018, kompleks ini diperluas dengan pusat budaya Turki di bawah pengelolaan Diyanet, lembaga resmi urusan agama Turki.

Selain sebagai tempat ibadah, Tokyo Camii juga menjadi pusat kegiatan budaya, edukasi Islam, serta destinasi wisata religi yang terbuka untuk umum.

Namun demikian, sebagai fasilitas yang dikelola oleh institusi terkait Kedutaan Turki, aturan terkait pengambilan gambar maupun aktivitas di sekitarnya bisa lebih ketat dibandingkan ruang publik biasa.

Menanggapi polemik yang berkembang, pihak Tokyo Camii Diyanet Turkish Cultural Center akhirnya buka suara melalui pernyataan resmi di media sosial mereka. Mereka menegaskan bahwa Tokyo Camii terbuka untuk semua orang.

"Tokyo Camii terbuka untuk semua orang di Jepang maupun dunia sebagai tempat yang dapat dikunjungi dengan aman dan nyaman."

Pihak pengelola juga menyoroti adanya potensi kesalahpahaman dari konten yang beredar.

"Kami melihat ada potensi kesalahpahaman dari beberapa konten di media sosial yang menampilkan bagian luar fasilitas," tulis mereka, sembari mengundang masyarakat untuk datang langsung ke lokasi guna melihat fakta yang sebenarnya agar tidak terjebak dalam persepsi keliru.

Terkait penggunaan simbol tertentu, Tokyo Camii menekankan pentingnya menghormati nilai budaya di sana. Mereka menjelaskan bahwa ekspresi seperti pengibaran bendera nasional maupun perayaan Bayram memiliki makna religius yang sakral. Adapun bendera Turki dan Jepang yang berdampingan di area tersebut merupakan simbol kuat persahabatan serta rasa saling menghormati antar kedua negara.

Meski menjaga nilai-nilai tersebut, pengelola memastikan bahwa mereka tetap inklusif dengan tetap membuka tur publik dan mengizinkan aktivitas fotografi di dalam fasilitas. Bahkan, selama bulan Ramadan, Tokyo Camii rutin menggelar agenda buka puasa bersama (iftar) yang terbuka untuk semua orang tanpa memandang latar belakang agama maupun kewarganegaraan.

Melalui pernyataan ini, mereka berharap polemik yang terjadi dapat menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman lintas budaya.

"Kami berharap ini menjadi kesempatan untuk membangun pemahaman yang lebih akurat dan mendalam tentang aktivitas serta budaya kami." pungkas pihak Tokyo Camii.




(afr/afr)






Hide Ads